Showing posts with label My Journal. Show all posts
Showing posts with label My Journal. Show all posts

Monday, October 7, 2019

Salah Aturan Minum Obat TB/ OAT Tahap Lanjutan dan Hamil Saat masih pengobatan TB 4 Bulan


Hamil saat pengobatan TB

Tanggal 25 Sepember lalu adalah tepat 4 bulan pengobatan TB Paru saya. Ada banyak kejutan saat memasuki bulan ke 5 ini, pastinya akan saya sharing disini.

Begitu syok saya pas tahu ternyata 2 bulan melewati tahap lanjutan saya salah minum aturan obat oat yang kuning itu. Sebelumnya saya mengikuti anjuran dokter pertama yang merawat saya pas di Rumah Sakit, saat akan menjalani tahap pengobatan lanjutan setelah fase intensif, kemudian selanjutnya akan diteruskan di puskesmas untuk pengambilan obat berikutnya. Saya pernah tulis di sini ↩

Pengobatan TB Paru setelah 3 bulan, dari Rumah Sakit ke Puskesmas

Singkat cerita, saya tetap meminum obat kuning TB Paru mengikuti dokter pertama yakni 3 tablet setiap hari, setiap hari! Persis minum obat TB yang merah itu loh, atau tahap intensif. Dokter puskesmas terdekat rumah sayapun mengikuti rekomendasi aturan minum sesuai dokter pertama saya 3 tablet setiap hari dan tidak ada masalah sampai disitu. Meskipun saya sudah menjelaskan cara dan kebiasaan saya minum obat OAT ini kepada dokter puskesmas, yakni malam bukan pagi sebelum tidur dengan jeda 2 jam setelah makan malam terakhir. Okeh beliau manggut2.

Memang keganjilan sudah saya rasakan pas saya melihat tanggal kembali dan jumlah obat berbeda! Biasanya dokter paru saya yang di Rumah Sakit memberi obat sesuai tanggal kembali. Misal kembali 7 hari kemudian, beliau memberi dosis 3x7 berarti 21 tablet, jadi saya kembali kontrol saat obat selalu habis. Beda dengan pas saya ambil obat di puskesmas, obat OAT yang diberikan memang selalu banyak (2 blitser biasanya). Satu kali itu, ambil obat di puskesmas lagi ketika habis dan jumlah obat tidak sesuai kunjungan kembali, saya tanya,

"Dok jika obat sudah habis tapi kunjungan kembalinya masih lama, bagaimana?"

Dokter puskesmaspun menjawab

"Tidak apa-apa, tidak harus mengikuti tanggal kembali kunjungan begitu obat habis bisa langsung kesini"

Okay berarti aman dan tidak ada masalah saat itu.


Masalah itu muncul saat saya pindah faskes dari puskesmas ke puskesmas baru

Tidak lama dari 2 bulan itu saya pindah tempat tinggal. Otomatis pindah faskes juga kan. Saya pilih yang dekat dengan tempat tinggal saya sekarang ini. Sebelumnya saya ingin bertanya-tanya dulu ke puskesmas baru yakni Puskesmas Rawumbu syarat apa saja untuk melanjutkan pengambilan obat TB Paru disitu. Dokter puskesmas Rawalumbu banyak menanyai hal, beda dengan puskesmas sebelumnya. Beliau memerintahkan saya untuk mengambil surat keterangan atau pengantar dari puskesmas asal dan juga menanyai "Bagaimana cara saya minum obat OAT tahap lanjutan ini"

ya, saya jawab apa adanya bahwa saya minum obat kuning itu sama seperti minum obat TB merah tahap intensif sebelumnya yakni, 3 tablet setiap hari sesuai anjuran dokter pertama.

Ternyata salah, selama ini saya salah 😢

Obat kuning atau OAT tahap lanjutan diminum seminggu 3 kali 3 tablet. Atau selang seling tidak setiap hari. Misal hari senin 3 tablet, selasa tidak minum, rabu minum 3 tablet, kamis tidak minum, begitu seterusnya sampai 3 kali dalam seminggu.

Lalu Bagaimana jika sudah terlanjur salah?

Sudah 2 bulan ini saya salah atau lebih tepatnya bingung, bingung sekali. Dokter mana yang harus saya percayai? Dokter pertama yang menangani saya bilang setiap hari kemudian dokter puskesmas ke-2 ini bilang seminggu sekali.

Felling saya mengatakan yang benar adalah seminggu 3 kali minum, karena saya membaca buku panduannya di buku jadwal kontrol. Memang betul untuk tahap lanjutan dituliskan 3 tablet setiap 3 kali dalam seminggu. 

Menyesal baru kerasa sekarang karena kurang kritis. Ini karena saya menganggap dokter yang menangani saya itu lebih tahu kondisi saya dan lebih paham karena dibidangnya. Tak jarang saya mendengar bahwa minum obat TB itu harus disiplin, setiap hari, setiap hari gak boleh putus atau harus ngulang lagi dan itu pengobatanya lebih sulit untuk kemungkinan sembuh.

"Harusnya saya tanya pada dokter pertama, kenapa di buku anjuran tahap lanjutan itu seminggu 3 kali  bukan tiap hari lagi"

Akh, sudah terlanjur, saya hanya bisa positif thinking saja. Mungkin saja saat itu berat badan saya masih kurang untuk mengonsumsi OAT tahap lanjutan karena di buku di tulis minimal 55kg sedangkan saya baru 50kg. Bisa jadi, tapi ingat ini cuma pikiran saya saja ya, bukan sebuah alasan yang tepat.

Yasudahlah, dokter puskesmas yang sekarang ini bilang tidak apa-apa, iya meyakinkan saya tidak akan ada efek yang serius, berdoa saja kepada tuhan, kata beliau.

Kegelisahan tambah meningkat pasalnya pas banget saya sedang hamil muda, terus baru tahu salah aturan minum OAT lanjutan? Meskipun sudah banyak dokter yang saya kroscek mengatakan antibiotik TB Paru tidak berbahaya untuk janin. Tapi masih kebayang lemesnya pas pulang dari Puskesmas Rawalumbu.

Tetep positif thingking aja sama yang maha kuasa. Insyaallah gak ngaruh ke janin yang dikandung, mohon doanya ya pembaca!

Dan sekarang minum obat OAT tahap lanjutan sudah ganti jadwal dari yang tiap hari menjadi seminggu 3 kali/3 tab. Semangat 2 bulan lagi.

Artikel terkait, Hamil Saat Masih Pengobatan TBC


Monday, September 2, 2019

Cara Mengurus Perceraian Tanpa Pengacara

Akta cerai

Mengurus perceraian sampai keluar akta cerai - Mengurus perceraian bagi seorang yang awam memang terlihat ribet, apalagi kita sering lihat di televisi kasus perceraian seseorang yang kerap kali dirumitkan dengan masalah hak asuh, harta gono gini dan sebagainya. Tidak jarang mengurus perceraian di pengadilan paling banyak dilakukan perempuan, dengan macam-macam sebab seperti ditinggal suami bertahun-tahun, digantung hubungan, suami tidak bertanggung jawab mengurus perceraian atau langsung menikah lagi tanpa mau mengurus ke pengadilan agama, dan masih banyak lagi alasan perempuan yang mengurus perceraian ke Pengadialan Agama.

Untuk melakukan perceraian yang terdengar rumit itu berpikir memakai jasa pengacara mungkin lebih baik, karena tidak pusing berdebat, lebih hemat waktu dan tenaga juga keterjaminan pengabulan gugatan hampir 100%. Tapi bagaimana dengan biayanya yang mahal, sedangkan posisi kebanyakan perempuan menuju status janda itu kebanyakan belum cukup penghasilan, apalagi bayar jasa pengacara.

Tapi sebenarnya mudah saja kok, mengurus perceraian tanpa bantuan pengacara. Kuncinya cuma sabar karena akan membutuhkan tenaga, waktu dan ikuti setiap prosedurnya. Sekitar kurleb 4 bulan dari pendaftaran dan proses sampai akhirnya akta cerai keluar. Seperti pengalaman saya yang ingin saya share, Cara Mengurus Perceraian Tanpa Pengacara.

Disini saya sharing sebagai penggugat, atau sesorang yang mengadukan perkara perceraian (sekalipun suami sudah menyetujui perceraian) dan yang dilaporkan statusnya adalah tergugat. Atau kalo suami yang mengadukan perceraian disebut pemohon dan istri adalah termohon, kalo tidak salah seperti itu hehe..

Artikel terkait, Sepenggal Cerita Tentang Perceraian

Berkas yang harus dibawa ke Pengadilan Agama


1. KTP Suami istri
2. KK
3. Akte anak (jika sudah memiliki anak dari pasangan)
4. Surat Nikah
5. Jika kamu berada di luar domisili KTP lampirkan juga surat domisili yang sudah diurus di desa.
6. Matrai 6000, bawalah 4 lembar

Tahap-tahap proses perceraian juga prosedur yang harus dilakukan


1. Daftar di bagian informasi.
Tahap ini kamu bisa bertanya-tanya lebih prihal proses yang akan dijalani juga masalah rumah tangga sehingga kamu ingin bercerai.

Staf informasi akan merujukan ke bagian posbankum atau layanan bagian bantuan hukum. Posbankum berguna untuk kita yang tidak menggunakan jasa pengacara.

2. Pengaduan di Posbankum
Disini kita bisa menjelaskan lebih detail perkara yang terjadi dan staf posbankum akan mencatatnya untuk pengajuan ke hakim nantinya. Usahakan tidak salah alias plinplan karena akan berpengaruh besar terhadap terkabul atau tidaknya permohonan cerai kita nantinya.

Ooo terdengar menakutkan ya, sehingga bikin grogi, yakin gak yakin, hehe... ini juga yang saya rasakan dulu. Alasan ia menikah lagi tanpa persetujuan saya dengan status pernikahan yang tidak diurus? Sepertinya itu bukan alasan kuat agar terkabulnya gugatan? Karena dalam hati saya berkata bahwa suami punya hak menikah lagi. KDRT tidak ada, sering cekcok tidak rukun lagi dan masalah yang mempengaruhi mental kami terutama anak? alasan ini masih masuk pertimbangan gugatan. Namun alasan yang lebih kuat lagi adalah, selama lebih dari 3 bulan itu putus nafkah lahir batin.

Biasanya ada yang namanya mediasi, jika alasannya adalah tidak rukun lagi. Namun saya melewatkan masa mediasi ini karena suami tidak datang untuk mempermudah proses cerai. Lah gimana mau datang wong dia lebih memilih perempuan laen ketimbang rujuk.

Tuh kan jadi curhat lanjut...

3. Menuju loket pengaduan perkara
Disini dibacakan lagi alasan kita menggugat suami, jika ada beberapa kesalahan masih bisa diketik ulang. Juga beberapa berkas yang harus ditandatangani. Ikuti semua instruksinya, seperti mempotocopi banyak berkas yang dibutuhkan, perintah cap pos di kota domisili, yang harus dibawa lagi nantinya saat persidangan.

Contoh surat cerai gugat


4. Panjar uang perkara
Menurut pengalaman saya biaya mengurus perceraian beda-beda dari masing-masing individu. Ada yang 600an, 700, bahkan 800, entah dilihat dari apanya, domisili, daerah pengadilan kah, jarak tempuh memanggil tergugat atau penghasilan penggugat, yang jelas sih tidak sampai 1 juta.

Biaya mengurus cerai

Kecuali kamu banyak jajan di kantin karena menunggu antrian itu butuh tenaga juga kan? Hehe...

Dan biaya perkara itu harus dibayar hari itu juga melalui BRI secara online atau cash.

Kemudian jika sudah melakukan tahap-tahap ke 4 prosedur pengaduan perkara perceraian yang dilakukan hari itu. Tinggal beberapa langkah lagi yakni menunggu surat panggilan sidang pertama yang akan dikirimkan ke alamat masing-masing suami istri.

Lanjut baca, tahap sidang perceraian


Saturday, August 31, 2019

Kehidupan pertama setelah bercerai sampai akhirnya bisa move on

Perceraian

Malam itu saya menangis sesegukan, masih tidak percaya dengan status yang saya sandang, 'janda'. Pertama kali yang ada dibenak saya saat itu 'putus nafkah'. Dari mana lagi saya menafkahi anak saya? Saya pun belum mapan, belum bisa mandiri. Hanya blogger receh, tidak menjamin pengasilan saya untuk menghidupi anak. Malam itu pikir saya begitu ketakutan akan masa depan anak. Setiap malam mimpi buruk selalu menghantui. Saya melihat ia meninggalkan saya, saya melihat ada wanita lain mengambil alih posisi saya, saya merasakan ia menghilang dari kehidupan saya, mimpi itu selalu berhasil membuat saya menangis dan enggan untuk tidur lagi. Setiap malam pula saya selalu bertahajud mengadukan isi hati ini kepada Allah Subhanawataalla. Agar bisa melupakan rasa sakit ini secepatnya, secepat ia mencari penggantiki. Benar-benar sakit. Terlebih menyembunyikan penderitaan ini di depan anak juga keluarga besar.

Waktu berlalu perlahan. Seakan meyakinkan saya bahwa ini akan sembuh seiring berjalannya waktu. Meskipun kabar-kabar dari mantan suami yang tidak mengenakan kerap membuat hati ini jatuh, bangun, kemudian dijatuhkan lagi.


Tutup buku, tutup telinga dan mata, semua yang berkaitan dengan mantan suami

Percayalah move on itu akan semakin sulit jika kita selalu mendengar kabar orang yang membuat sakit. Seharusnya di hari itu saya memutuskan untuk menutup buku semua tentangnya, tapi tidak semudah itu. Ada anak kami yang belum mengerti. Ada anak yang masih butuh ayahnya. Membuat saya tidak bisa tutup buku dengan maksimal, dengan alasan 'anak butuh ayahnya'. Kami masih sering berkomunikasi prihal bertanya keadaan anak. Tapi saya berpikir ini tidak baik. Berbohong di depan anak bahwa kami baik-baik saja padahal sudah berpisah, bukan kah salah satu memberi pengharapan palsu kepada anak?

Lagi-lagi seorang ibu yang harus mengorbankan perasaannya, menghadapi  goncangan mental anak, menghadapi apapun itu menjaga anak agar 'kamu bukan anak broken home' kamu bahagia, mengjari ia belajar menerima kenyataan dengan legowo. Meskipun rasa itu sebenarnya sakit juga untuk saya sebagai seorang perempuan. Bertemu mantan suami, merelakan anak bersama ayah dan ibu tirinya, bersikap seakan baik-baik saja hubungan aku, ayahnya dan ibu tirinya di depan anak padahal tidak. Sakit sekali menyaksikan seakan akan mereka bahagia di atas kehancuranku.

Selesaikan apa yang masih digantung. Jangan menyangkal dan jangan lari dari kenyataan

Sempat tertunda mengajukan perkara ini kepengadilan agama karena uang untuk mengurus perceraian bentrok dengan biaya anak masuk TK. Meskipun dalam pengadilan agama saya yang menggugat, itu karena mantan suami tidak mau mengurusi perceraian ini. itu berlangsung sekitar 6 bulan dari talak yang sah menurut agama dan dalam masa iddah ia sudah memiliki calon bahkan menikah disaat perceraian belum beres.

Jangan menyangkal kegagalan ini karena salah sesorang hanya untuk mengobati hati yang terluka. Tetap rendah diri dan berserah diri. Akui apa yang perlu diakui kemudian melangkah hijrah ke tempat yang lebih baik dengan pasti. Masalah mantan mau ia benar atau salah, jangan pernah peduli. Apalagi minta pendapat seseorang untuk menjadi temanmu yang pro dengan kisah mu atau sekedar ingin mendapat pengakuan bahwa, mantanlah yang salah, jangan. Itu hanya membuat mu capek hati dan sulit menerima kenyataan. Biarlah Allah yang lebih tau.

Melangkah hijrah itu lebih mudah jika kita sudah mengikhlaskan apa yang terjadi, ridho.

Memulai meyibukan diri dengan kegiatan yang  disukai dan bermanfaat. Serta dekatkan hubungan lagi dengan keluarga besar.

Meskipun pengasilan dari blog tidak banyak, namun waktu saya terjun di dunia blogging lebih banyak untuk sekedar menyibukan diri. Seperti Allah tahu apa yang dibutuhkan hambanya. Kebahagian itu datang satu per satu untuk menghibur hati ku yang dulu rapuh. Waktu lebih banyak terhibur dengan keluarga besar, seperti jalan-jalan, bercanda, hubungan kekeluargaan, job event blogger yang makin kencang, hadiah lomba blog, bekerja di sebuah komunitas blogger sebagai admin. Cukupkah untuk menafkahi anak?
Alhamdulilah rezeki lebih dari itu bukan sekedar uang saja.


Sudah saatnya saya melangkah...

Berjalan melangkah semakin dimudahkan  oleh Allah Subhanawataalla. Kemudian saya memfokuskan diri dengan berhijrah, banyak mengoreksi, memperbaiki diri, agar lebih dekat dengan ilahi. Karena mindset saya selalu mengatakan 'perempuan yang baik untuk laki-laki baik, begitupun sebaliknya', jika ingin mendapatkan laki-laki yang baik, maka perbaikilah diri kita menjadi lebih baik, terus dan terus jangan lelah.

Sampai akhirnya saya menikah dengan laki-laki yang baik (insyaallah) dan sekarang saya benar-benar lupa rasanya pernah disakiti 😊



Friday, August 30, 2019

Sepenggal Cerita di Pengadilan Agama


Untuk ke 4 kali saya berada di Pengadilan Agama Cikarang Kab. Bekasi. Saat mendaftar gugatan, sidang pertama, kedua, pengambilan uang panjar, dan akta cerai.

Senin, lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Saya mengambil nomor antrian untuk akta cerai, seolah sudah tidak kaku lagi karena hafal alur prosesnya tidak seperti pertama kalinya yang penuh drama, kali ini saya datang lebih santai. Kemudian saya berusaha mencari tempat duduk yang hampir penuh diantara mereka yang menunggu giliran. Ada yang menunggu persidangan, daftar pengaduan, ada yang bawa keluarganya anak, cucu, ada pula suami istri yang sepakat untuk cerai.

Saya melihat mereka, seorang ibu muda yang mengadu KDRT, perempuan cantik yang menggugat suaminya karena lama tidak pulang. Macam-macam raut wajah mereka, sedih, rempong, marah, cuek, tegang, bingung. Mengingatkan saya pada pertama kali ke tempat ini. Menangis sesegukan, bukan karena patah hati ia menikah lagi, tapi sedih luar biasa tidak menyangka bahwa saya sendiri yang mengurus ini. Bahkan pakai uang pribadi yang seharusnya untuk simpenan sekolah anak.

Pikiran saya melayang saat duduk di kursi antrian. Mengapa ada banyak sekali mereka yang bercerai? Apakah pemandangan ini setiap harinya?

"Satu kota saja setiap harinya sangat banyak orang yang ingin bercerai, bagaimana jika dihitung seluruh indonesia?"

Saya ingat kata menteri pemberdayaan perempuan tempo lalu, saat saya menghadiri konfrensi perss kekerasan terhadap perempuan dan anak.

"Kasus pengguggat terbanyak itu adalah perempuan. Setiap hari ya selalu ada perceraian. Makannya perempuan jangan apa-apa langsung minta C"

"Sekarang di Indonesia kian banyak perempuan yang menelantarlan anaknya karena menjadi tulang punggung pasca bercerai. Iya kalo mereka produktif tapi bagaimana jika mereka perempuan belum berdaya. Belum lagi nasib anak-anak Indonesia"

Ya memang menohok di hati saya saat itu. Berhasil membuat saya menangis sendu di KRL menuju pulang dari konfrensi perss yang tadinya sedang bekerja sebagai single mom, pulang membawa sedih.

Baca juga, bunda jangan mudah mengatakan C

"Tidak ada perempuan yang ingin bercerai dengan seorang yang ia cintai. Benarkan? Tapi ada di masa saat jiwa raga ini sudah tidak sanggup. Mungkin caraku yang salah atau mungkin caranya yang salah?. .. agh bukan waktunya menyalahkan, kami sudah berusaha saling bertahan hingga, qodarullah jalan kami akhirnya berbeda". Pikirku dulu...

Pengalaman bercerai itu menjadikan hikmah yang luar biasa dalam hidup saya. Bahwa jangan terlalu memfokuskan pengharapan kita kepada manusia karena manusia tempatnya kecewa. Tapi komitmen kita kepada Allah, tapi niatkan ibadah karena Allah. Saya yakin itu sulit banget karena tidak ada rumah tangga yang selalu baik-baik saja.

Monggo dibaca, Pelajaran Pasca Bercerai

Di depan saya seorang ibu sekitar umur 40an dengan temannya, bicara masalah cinta dengan suaminya, yang saya herankan tidak ada rasa sedih atau minimal termenung, ini malah heboh reaksi, bertanya pendapat ke temannya tentang status WA yang harus di update pasca berpisah "eh eh ini baca deh, baca de, status gw bikin dia baper gak?" #tepokjidat

Kurang lebih begini isinya,
Tangismu adalah senyumku,
Bahagiaku adalah deritamu,
Maaf sudah terlambat untuk mencintaiku... bla bla bla

Seakan memceraikannya adalah solusi balas dendam karena telah menyakiti hati.

Why? Ini bukan masalah putus dengan pacar tapi perceraian loh...

Seremeh itu kah perceraian?
Sakit. Sudah tidak cinta lagi...

Ah kamu bell, seperti tidak pernah gagal saja!

Ya, memang benar disetiap ujian selalu ada hikmah yang bisa diambil. Sebagai rasa prihatinnya saya melihat tingkat perceraian yang kian terus meningkat di negeri ini membuat saya ingin berbagi pelajaran itu sendiri.

Mungkinkah bisa diselamatkan? Jika masalahnya spele?

Mencegah anak-anak broken home?

Menjadikan masing-masing individu lebih matang lagi jika berhasil mempertahankan keutuhan?

Menguatkan iman kita dan hubungan kita kepada Allah?

Cobaan itu membuat kita panen pahala yang besar?


"Orang yang pernah gagal bukan berarti dia gagal, justru ia lebih bisa belajar dari kegagalan itu"

Ya seharusnya memang begitu...

Thursday, August 29, 2019

Pengobatan TB Paru setelah 3 bulan, dari Rumah Sakit ke Puskesmas


Lanjutan artikel, Pengobatan 2 Bulan TB Paru/TBC

Alhamdulillah, gak kerasa 3 bulan aja pengobatan TB Paru dan udah 2 kali ngalamin telat minum obat huhuhu 😢gara-garanya ketiduran. Iya karena jadwal minum obat OAT akoh toh malam menjelang bobok dan waktu itu capek banget jadi langsung cus tidur. Biasanya ada alaram tapi entah kenapa alaram gak bunyi karena si akhdan main hape sampe lowbet sampai-sampai kegiatan bobok itu tidak ada yang mengganggu gugat. Akhirnya pas bangun sadar belum minum obat saya reflek langsung ambil obat, dan itu kejadiannya subuh menjelang pagi sama pagi menjelang siang 😂

Udah tanya dokter di aplikasi online (takut diomelin kalo tanya bu dokter langsung haha) gapapa asal jangan sampe gak minum dan keseringan telat!

Dan nanti mau konsul lagi ke dokter paru puskesmas, tentang keterlambatan minum obat TB.

Okeh tadi sampe mana? Mau bahas pindah kontrol dari Rumah Sakit ke Puskesmas ya? Haha...

Jadi gini, dari awal ranap pengobatan, prawatan dan kontrol mingguan rutin saya di rujuk dari klinik BPJS ke Rumah Sakit pilihan saya. Saya pilih Rumah Sakit Graha Juanda.

Artikel terkait,  Kenapa saya pilih berobat di Rumah Sakit Graha Juanda

Namun setelah jalan 3 bulan dan waktu surat rujukan sudah habis (maks 3 bulan berlakunya surat rujukan BPJS) saya mau perpanjang tapi ternyata pengambilan obat OAT TBC dialihlan ke Puskesmas terdekat. Yaaaahhh...

Kenapa "yaaaahh" ? 😆

Karena yang sebelumnya di RS ditangai dokter Evata Sp.p dan perawatnya itu sudah bikin saya merasa nyaman. Ya, maklum selama ini saya berobat gak pernah suka sama dokter, terlebih dokter umum (karena dari kecil gak pernah sakit macem2)

"Keluhannya apa?" Kata dokter umum

"Begini dok, begitu dok, bla bla bla". pasien sudah menjelaskan panjang kali lebar

Set set set, nyatet resep suruh ambil obat, selesai..

Jujur saya gak pernah puas sama dokter yang tipe ini. Tipe diajak ngobrol susah, haha...

Kalo dokter Evata spesialis paru di Rs. Graha Juanda, dokternya humble, asyik, saking asiknya nyuruh saya kontrol hampir setiap minggu, bayangin aja gaes gimana gak pegel nih tenaga buat antri dan jajan di kantin, haha..

Tapi aku suka beliau orangnya perhatian, begitu ada gejala beliau langsung respon dan nanya keadan saya. Sampai pas saya akhirnya di oper juga ke Puskesmas, karena obat OAT TBC sudah digratiskan oleh pemerintah, maka saya tidak perlu ke rumah sakit lagi. Uhuuuyyy gratis buibu...

Cukup simpel dan praktis, datang ke puskesmas gak perlu daftar apalagi antri, temui langsung dokter paru (yang alhamdulillah cewek juga) kemudian di beri obat OAT TB Paru. Gak tanggung-tanggung jumlah blisternya banyak lumayan buat stock kurleb 2 minggu sampai 1 bulan. Jadi gak perlu bolak balik keseringan kaya di Rumah sakit sebelumnya. Ambil obat, balik lagi jika OAT sudah habis, atau konsultasi jika ada keluhan, kelar langsung pulang.

Plus minus sih,

Kalo di Rumah Sakit
➕ Kontrol rutin dan sering komunikasi sama dokter bikin termotivasi dan nambah edukasi tentang penyakit ini. Juga jika ada keluhan cepat tanggap.

➖ Boros jajan, capek tenaga karena antri, beresiko tertular penyakit karena isinya rumah sakit, ya orang sakit juga.

Kalo di Puskesmas
➕ Praktis, cepat gak boros waktu/jajan
➖ sayangnya tempat puskes dari rumah ku lumayan berkelok dan minim trasportasi (di dalem perumahan boo)


Udah itu aja, intinya sih penyakit TB bisa diobati jadi tetap istiqomah ikhtiar sembuh ya.. horor horor dulu tentang tetangga banyak yang meninggal karena TB sekarang saya bisa optimis sembuh. Iya kamu juga 😊


Boleh, dibaca juga artikel sebelumnya, 



Semoga bermanfaat!

Thursday, July 25, 2019

Pengobatan 2 bulan TBC


H-7
Demi kontrol dan kedisiplinan obat, perjalanan saya ke rumah sakit kali ini tidak mudah. Yaitu mengendarai sepeda bersama akhdan anak saya. Jarak anatara rumah ke rumah sakit sekitar 4 atau 5 km, dari jalan kampung yang sempit ramai sampai lewat jalan raya besar yang mengarah ke bulak kapal, Bekasi. ya lumayanlah buat penggoes yang sedang asam urat akibat efek samping obat TBC. Sebenarnya ini bisa dibilang mengeneskan tapi juga banyak hikmah. Jadi tanggal 27 Juli itu adalah 2 bulan pengobatan intensif TBC saya sebelum akhirnya lanjut ke pengobatan lanjutan 4 bulan.

Beruntung tuhan memudahkan perjalanan saya. mulai dari kesehatan geoesan yang prima, meskipun lagi nyeri sendi dan cuaca pagi-siang yang mendukung alias lagi adem. Gak kaya biasanya bekasi sonoan dikit selalu panas mentereng.
Selama perjalanan seru sih karena sekalian mengajari anak tentang keberanian, optimis dan mandiri.

Di rumah sakit yang seharusnya saya dijadwalkan cek asam urat, tidak terlaksana karena saya tidak puasa, seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Ya iyalah gak tahan puasa disisi goes sepeda menuju rumah sakit aja butuh pasokan kalori hehe, tapi gapapa dimaafkan bu dokter.

Next jadwal pemeriksaan berikutnya adalah cek dahak. Karena sekarang mau mendekati 2 bulan atau tahap lanjutan. Masalahnya dahak saya gak bisa keluar secara semenjak minum obat merah itu kan udah berenti batuknya. Jadinya diresepkan dokter obat untuk merangsang keluarnya dahak. Obatnya agak ribet, 2 tablet minum sebelum tidur, bangun tidur 2 tablet, kemudian minum air hangat, lari-lari kecil, sarapan, minum 2 tablet lagi. Harusnya berhasil, tapi sayangnya gak ada efek batuk. Jadi untuk tes dahaknya gak berhasil permisah.

Minggu depan sudah pas 2 bulan dan waktunya rontigen lagi untuk melihat perbandingan ronsen pada 2 bulan sebelumnya :)

Pengen cepet ganti obat kuning karena yang merah efek sampingnya asam urat, mual, tambut rontok, mungkin pengaruh dosis yang lebih besar kali ya. Semoga aja cepat kekejar berat badannya.

Baca juga, Pengobatan TBC Paru part 1

Lanjutt..... 👇


Hari H tepat 2 bulan, 27 Juli 2019

Pengobatan TBC

Gak kerasa udah 2 bulan pengobatan TB Paru yang saya jalani. Ada banyak hikmah dikasih sakit berat seperti ini. Mulai dari kesabaran, ikhtiar, inget mati, menyayangi tubuh, semakin dekat dengan Allah, dan yang paling saya tunggu sih sebenarnya adalah pergantian obat dari merah ke kuning. Soalnya yang merah dosisnya lebih banyak dan efek samping asam urat masih kerasa terus setiap hari.


Jadi kontrol 2 bulan saya harus rontigen lagi, untuk melihat perbandingan rontigen paru saat pertama kali saya di rawat inap. Sebelumnya dokter minta tes dahak namun nihil meskipun sudah diberi obat perangsang dahak (karena sudah tidak batuk lagi) dahak tidak mau keluar. Alhamdulilah meski sudah tidak batuk atau dada sakit, hasil rontigen bagus. Perkembangan semakin bagus, berat badan saya pun terus naik. Selama 2 bulan naik 9 kg dari 37 menjadi 46kg. Meskipun targetnya 55kg untuk mengonsumsi obat kuning tapi kata dokter tidak mengapa.

Kandungan obat kuning ini adalah Rifampicin 150mg dan isoniazid 150mg.
Diminum 3 butir setiap malam atau pagi 2 jam setelah makan, seperti biasa aturan pakai sama seperti yang merah (dosis bisa berbeda tergantung resep dokter)

Next step obat kuning ini masih tetap dikonsumsi selama 4 bulan lagi dan rutin kontrol setiap 1 atau 2 minggu sekali. Hmmm cukup melelahkan ya bolak balik rumah sakit. Alhamdulilahnya pakai BPJS jadi menghemat biaya kesehatan. Seperti tes darah, cek asam urat, rontigen, resep obat di luar apotik seperti obat asam urat, lambung, dan sebagainya. Kan kalo obat TB itu free ya, kalo di puskesmas, gak tau deh kalau di rumah sakit mah.


Oia saya baru tau loh, ternyata obat TBC ini termasuk jenis antibiotik ya. Gak kebayang konsumsi antibiotik selama 6 bulan, pantas gak boleh putus obat karena malah bikin kuman kebal dan itu yang buat penyakit TBC mematikan.

Intinya di kontrol pengobatan 2 bulan TBC ini alhamdulilah dada udah gak sakit lagi, udah gak lemes lagi, HB normal gak anemia dan super lemes kaya waktu sebelum pengobatan dan semoga asam uratnya lenyap setelah beralih ke obat yang kuning.


Inget ya yang TB Paru kunci kesembuhan ada pada disiplin minum obat :)


Baca juga, Hampir Setiap Minggu Jadwal Berobat TBC 

Baca sebelumnya, Awal kena penyakit TB Paru atau TBC


Wednesday, July 24, 2019

Cerita bercadar: kelebihan dan kekurangannya


Niat pakai cadar sebenarnya sudah lama saat masih sama suami yang pertama, namun belum terealisasikan karena keluarga bukan yang paham betul tentang agama. Awalnya saya tertarik dengan sebuah manhaj yang dimana mereka mengikuti tuntunan Rasullullah. Terlebih pandangan perempuan di mata islam, membuat saya sangat tertarik.

"Wanita itu dimata islam seperti ratu. Dimana setiap ratu itu harus dijaga (tidak sembarang keluar rumah), dilindungi (berhijab), mahal (bercadar wajah limited edition bagi suaminya), diistimewakan (mudahnya masuk surga untuk mereka)"

En itu gak gampang permisah untuk hijrah di keluarga yang belum sevisi misi butuh keistiqomahan dan bahan bakar motivasi biar gak labil imannya. 😄

Hijrah itu jangan sendirian...

Alhamdulillah dapet suami yang kedua ini bermanhaj salafi, buat saya itu kesempatan dari Allah Subhanawataalla untuk mempermudah saya belajar lagi. Jadi keluarga gak kaget saat saya memutuskan bercadar mereka gak bilang "bel ngaappaaa luu, lah ngapa jadi orang arab" (baca: logat betawi) 😂

Dan tantangannya setelah memutuskan bercadar adalah,

Diujinya keistiqomahanyah

Istiqomah sendiri adalah adalah hal berpendirian kuat atau teguh pendirian. Kata ini berasal dari bahasa Arab istiqama, yastaqimu, istiqamah yang berarti tegak lurus. Dalam KBBI, istiqamah berarti sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. -wikipedia-

Waktu lagi sama keluarga besar makan di rumah makan sate, kakak

"buka aja sih itu nya (cadar)" dengan pandangan aneh melihat penampakan adeknya yang lagi membiasakan diri makan pake cadar di tempat umum.

Down rasanya 😢 meskipun dalam hati "ih iya susah juga ribet kudu pelan, anggun, gak biasanya gue maen habek habek. Padahal ini sate maranggi paporit banget dan gak nahan kalo disuruh makan pelan, hahaha"

kan malu ditegur gitu berasa manusia aneh. Ya tetep istiqomah karena islam itu memang awalnya asing, ye kan ye kan..

Drama kedua,

Kata mamah, "kalo gak ada suamimu dibuka aja cadarnya"

"Emangnya bela pake cadar karena suami, huuh"

Kemana-mana harus lihat tempat untuk menjaga nama baik islam dan mencegah hal yang munkar. Contohnya, gak lucu kan pake cadar maennya ke tempat riba. Alhasil yang tadinya mau pakai riba, gak jadi karena bercadar juga sebagai pencegah. Sejak itu kita jadi semakin mencari tahu ilmu-ilmu syariah, fiqih. Boleh gak sih minjem gadai di penggadaian meskipun bunganya keciiiiiiillllll bgt, boleh gak sih begini, begitu dan sebagainya.

Namun dari semua itu bercadar juga mengandung banyak manfaat yaa. Lebih banyak malah dari pada minusnya

Kelebihan hijab syari menggunakan Cadar atau Niqab


1. Percaya diri
Bukan istiraj ya. Bahwa kita ini "wanita spesial dan gak boleh sembarang orang melihat kecantikan guee gitu loh" pada dasarnya mata laki-laki lemah oleh keindahan perempuan. Dan semata-mata ini intuk menjaga kaum wanita dan mencegah kejahatan itu sendiri. Percaya deh sama hadits ini,

"Sesungguhnya perempuan itu adalah fitnah terbesar"

"Apabila ia keluar maka setan menghiasinya

We are special dan mindset ini menjadikan kita lebih dekat lagi dengan Allah

2. Melindungi perhiasan
Semua banda berharga milik kita (perhiasan). Bukan perhiasaan emas ya tapi ada yang menarik secara fisik yang terlihat pada diri kita. Wajah yang cantik (misalnya) body bohay (ini yang paling terfitnah 😂meskipun mukanya pas-pasan), kulit sehat mulus, udah gitu terlindungi dari pengaruh buruk lingkungan seperti sinar matahari, debu polusi, bikin awet muda. Nah ini yang paling bikin seneng banget.

Kalo kalian sangaka bercadar jadi bikin malas dandan ih salah banget. Justru karena mindset yang saya bilang tadi, kita ini spesial, perempuan itu istimewa. Secara tidak langsung membuat diri ini sadar skincare "merawat diri itu penting, penting banget buat suami", penting buat membahagialan diri dan juga pasangan kita tentunya.

Istri: "Sayang sayang, mau lihat ratu bidadari syurga yang nyata gak?"

Suami: menoleh, menatap wajah istri, dan melongo. "mana??"

Istri: "tetep istiqomah setorin uang lebih buat perawatan ke salon ya. Kan di luar ke arab-araban di dalam kebarat-baratan" nyengir.

3. Mencegah pelecehan
Memang sih yang namanya pelecehan itu bisa terjadi sama yang bercadar ataupun tidak. Tapiii dengan bercadar peluang pelecehan perempuan sangat rendah. Udah kebayang orang awam kalo liat ukhti cadaran gitu ekapresi wajahnya kaya gak biasa gitu, tapi ada juga yang menghormati.

Terkecuali, mereka yang istiraj. Niatnya memang untuk menarik perhatian lawan jenis. Apalagi selfie cadaran, pasti dilihat banyak netizen. Karena itu, pakai cadar juga ada rullesnya loh.

✔Harus menutup dada / cadar yang panjang
✔Tidak menerawang
✔Menutup alis, hanya mata yang terlihat. (Ini yang dianjurkan banget kalo aku masih belang😅)
✔Cadar bandana, yaman, rekomendasi
Hindari cadar yang terlalu banyak aksen menarik perhatian. Misalnya cadar butterfly.

Prinsipnya memakai cadar untuk menutupi perhiasan kita mencehah istiraj, lah ini pakai berbagai macam model cadar agar menjadi perhatian.

hmmm memang balik lagi pada niat masing-masing individu, wallahualam. Tapi buat kamu yang udah hijrah pakai cadar jangan istiraj ya gaess ..

4. Si misterisus yang praktis
Gak ribet kalo ke warung, ke pasar, belum mandi gak usah mekup, gak keliatan ini jeleknya. atau lagi makan bakso ingusan meler,  bisa tetutupi. Ekspresi wajah kalo gak begitu ketara. Jadi kalo kesel ma orang manyunin aja menyon-menyon mulutnya, haha.

Ini sering banget terjadi kalo keluar sama suami. Jadi muka saya yang udah jelek gak kelihatan beliau. Lipstik udah luntur, makan bakso tadi hidung meler-meler, bedak luntur minyakan gak keliatan suami, tapi eyeliner masih tetap waterpof dong, huehehe.

Gimana tertarik hijrah pakai cadar?
Aku tunggu komentar kalian!



Tuesday, June 25, 2019

Pengobatan TBC: Kontrol rutin berjadwal


Hari itu belum sampai sebulan pengobatan TB saya memutuskan untuk keluar rumah mau beli baju lebaran yakni belum sampai 2 minggu lebih. Sebenarnya gak boleh permisah, jangan ditiru ya hihi.

Okeh kondisi badan tidak selemah saat sebelum pengobatan. Saya merasa sehat kembali. Makan saya banyak terutama nafsu dengan makanan daging dan jajan tentunya.

Dalam waktu satu minggu saya mulai mampu pergi-pergi menggunakan motor, saya pergi menggunakan transportasi umum ke luar kota tetangga, meskipun kerap kali terasa lelah tidur sebentar kembali pulih. Hanya terasa kaki yang kencang saya pikir efek kelelahan. Namun saat jalan-jalan ke bandung pasca lebaran rasa sakit di sekitar betis sangat kerasa dan menjalar ke kandung kemih. Diperjalanan saya tidak bisa BAB dan perut bagian bawah sakit sekali. Mungkin ini efek kelamaan duduk di mobil atau lelah. Namun akhirnya normal kembali setelah pulang ke rumah. Rasanya seperti urat tertarik, kaku dan berat.

Nyeri pada lutut, betis semakin mengganggu terutama waktu solat. Kemudian menjalar pada telapak kaki lalu jari2 tangan.

Kontrol kedua pun tiba,
Saya dijadwalkan kontrol lagi terhitung dua minggu lebih dari hari terakhir keluar rawat inap.

Dokter bilang saya asam urat efek dari obat. Dalam sebulan pertama pengobatan TBC efek samping obat mulai dari asam urat, rambut rontok berlebih, telat haid. (Mungkin setiap individu bisa berbeda-beda) berita bagusnya berat badan saya naik 5 kg dari 36 sekarang 41kg. Dokter mentargetkan BB saya harus sampai 55kg supaya bisa ganti obat kuning, next step. Buat saya agak sulit menaikan BB dalam sebulan ini, 14kg karena memang dari dulu stabil di -48.

Di kontrol kedua dokter hanya memberti obat TB tahap pertama yang berwarna merah itu (saya lupa namanyanya anda bisa search di google yaa)

Dokter menjadwalkan kontor lagi minggu depan unyuk cek darah dan asam urat. Dengan jarak 1 minggu lumayan menguras tenagga menginggat bolak balik berobat dan ngantri itu melelahkan dan boros jajan, haha.

Baca juga, Rasanya Punya Penyakit TBC atau TB Paru

Efek samping obat TBC berwarna merah


  • Asam urat (nyeri seperti otot kaku atau tertarik, bagian betis, lutut, telapak kaki dan tangan/jari, kadang leher samping) dan ini terasa saat seminggu pengobatan efek samping mungkin bisa berbeda-beda pada setiap individu.
  • Rambut rontok
  • Mual (tapi gak sampe muntah)
  • Telat haid bisa juga enggak haid

Jika terjadi efek samping diatas biasanya dokter akan memberi obat peredanya pada kontrol di minggu berikutnya.

Meski sudah jalan beberapa minggu kadang kala saat merasa sudah fit sakit dada yang nyeri itu kambuh. Tidak ada riwayat sakit asma atau sesak nafas. Tapi kalo sudah merasakannya, ambil nafas pun nyeri jadi saya lebih bisa bernafas pendek. Jika kalian merasakan diposisi nyeri dada mungkin kamu akan berpikir bagaimana jika ini akhir hidup saya? Lalu kemudian besoknya sembuh lagi, alhamdulillah hehe. Karena banyak orang meninggal karena TBC Paru. Ada 3 orang yang saya kenal meninggal karena TBC tapi ternyata setelah saya cari tahu orang yang meninggal karena TBC itu pertama,

1. Terlambat penanganan
Sakit TBC itu kalo tidak cepat terdeteksi, lambat penanganan seperti tempat tinggal jauh dari faskes, tidak ada biaya atau penanganan yang salah misal dibawa ke dukun/orang pintar bisa menyebabkan kematian. Biasanya ini sering terjadi dikampung atau orang yang minim edukasi tentang TBC.

Jadi ges ini pelajaran banget jika sudah ada tanda tidak wajar dari sakit kamu segera periksa ya! Jangan harus nunggu komplit gejalanya karena TBC yang identik dengan batuk berdarah juga belum tentu keluar darahnya hehe...

2. Putusnya pengobatan alias pasien Menghentikan obatnya meskipun sudah merasa sembuh. 
Nah ini ribet lagi, karena katanya bakteri M nya ini belum benar-benar mati hanya pingsan. Jika obat terhenti bakteri akan bangun kembali dan kebal terhadap antibiotik sehingga lebih sulit diobati. Adapun tahapnya itu biayanya dan obatnya lebih mahal juga rumah sakit yang tertentu yang hanya ada di Jakarta.

Kedengarannya lelah ya harus minum obat tanpa putus selama 6 bulan dan kontrol rutin. Di awal aja tiap minggu harus ke RS belum lagi efek samping nya yang membuat kita tidak nyaman. Tapi percayalah efek samping nya itu lebih kecil dibanding manfaat obat nya yang besar sekali. Jadi buat kalian yang sedang menjalani pengobatan TB tetap istiqomah ya :)

Baca sebelumnya, Pengobatan TBC part 1

Saturday, June 1, 2019

Pengobatan TB Paru

Tuberkulosis penyakit TBC

Setelah dinyatakan positif TBC atau TB Paru, saya langsung di rawat inap siang itu (Senin, 27 Mei 2019). Saya di tempatkan di kamar isolasi. Hanya saya sendiri dalam kamar perawatan itu dan penjengukpun hanya diperbolehkan satu orang. Tiba-tiba anak saya disuruh menjauh, cadar diganti masker karena dianggap lebih akurat dalam mencegah penularan. Rasanya seperti diasingkan saja. 😢

Infusan yang sejak awal sudah dipasang kini dimasukan beberapa jenis obat (kalo gak salah 3 suntikan) suntikan itu kemudian dimasukan melalui selang infusan. Awalnya gak sakit tapi di waktu berikutnya, obat yang disuntikan melalui selang infusan itu rasanya perih, sakit sekali.

Malam pertama rawat inap
Saya ingat malam itu saya di suntik antibiotik sekaligus mengetes kealergian terhadap antibiotik tersebut. Apakah ada reaksi gatal? Tapi alhamdulilah enggak ada alergi-alergian jadi memudahkan pengobatan juga kan.

Lanjut, dua jam setelah makan malam dilanjutan dengan obat inti. Yaitu obat TB Paru. Warnanya merah pudar dan harus diminum langsung 3 tablet (jumlah tablet ditentukan tergantung berat badan jadi gak sembarangan)

Malam itu jam 1 saya dibangunkan untuk transfusi darah, karena hasil darah sudah keluar HB saya sangat rendah yakni 6 dari normalnya minimal HB 11. Satu hari itu 2 kantung darah berhasil merecarge tubuh. Masalah makan masih nafsu ketimbang saat tinggal di Bogor itu total hampir gak mau makan, cuma itu makan nasi masih gak bersahabat. Dokter berpesan untuk terus menggenjot asupan protein juga zat besi seperti daging merah, kacang-kacangan, telur, susu, dsb. Pantangan saat maag pun jadi tidak saya hiraukan demi semangat ingin sembuh, semangat 15 kg. 37 menuju 55 kg.

Dua malam di rumah sakit, dokter mengizinkan saya pulang karena HB sudah mencapai 10, meskipun kurang dikit, alhamdulilah.

Siang itu kami bergegas pulang dan suami membereskan berkas-berkas dan bawaan.  Untung pakai BPJS jadi tidak ada kendala ataupun iuran apapun semua 100% ditanggung BPJS saya tinggal pulang saja tanpa syarat berkas yang meribetkan.

Dan ini beberapa obat yang diresepkan dokter untuk saya, ada 3 jenis yakni Curcuma, Penambah darah, dan obat inti obat TB yang harus diminum rutin gak boleh putus.

Obat TB ini harus diminum setiap hari di malam hari dengan jeda terakhir makan malam minimal 2 jam dengan kondisi perut kosong. Jumlah obat yang diminum saya langsung 3 tablet (jumlah tergantung BB berat badan dan sudah diresepkan dokter yaa karena mungkin setiap orang jumlahnya berbeda-beda)

Jika terjadi mual, muntah hebat setelah minum obat merah ini segera hentikan dan hubungi dokter anda.

Alhamdulilalah saya cocok. Sakit dada sebelah kanan awalnya terasa nyeri setiap bernafas apalagi saat batuk tapi setelah minum obat TB ini berangsur membaik.

 Buku kontrol

Setiap kontrol ke Rumah sakit terutama untuk pengambilan obat TB jika habis, perawat akan mencatat kunjungan dan memantau perkembangan TB sampai bakteri TB ini benar-benar mati. Yups, sampai 6 bulan. Meskipun nanti sebulan pertama, dua bulan, dan seterusnya merasa sudah sembuh tetap harus kontrol dan pantau karena bakteri TB biasanya hanya pingsan dan bisa hidup lagi jika kita tidak disiplin dalam pengobatan.

Nah, obat TB ini sangat berperan penting dalam kesembuhan TBC dan harus diminum rutin selama 6 Bulan.

Baca juga, Rasanya punya penyakit TBC

Do
✔ Gunakan masker diluar maupun dalam rumah terutama jika kontak dengan keluarga
✔ Makan makanan tinggi protein dan zat besi seperti daging merah, kacang-kacangan, telur, susu, buah dan sayur.
✔ Perbanyak waktu berjemur di pagi hari
✔ Minum air putih yang banyak
✔ Hindari tempat lembab
✔ Jaga kebersihan barang pribadi terutama alat makan
✔ Disiplin minum obat TB meskipun sudah merasa sembuh

Dont
❌ Tidak menggunakan masker
❌ Bersin, batuk, buang dahak/ludah sembarangan
❌ Tidak teratur minum obat TB
❌ Terlalu banyak berdiam diri di kamar yang lembab/dingin
❌ Sementara jangan keluar terpapar polusi udara
❌ no rokok maupun asapnya hindari

TIPS

  • Bila dada terasa sakit saat tidur ambil posisi nyaman tidak menghimpit dada yang sakit. Misal sakit dada sebelah kiri berarti tidur miring ke kanan.
  • Bila dada terasa nyeri segera kompres dengan air hangat 

Setelah berobat, mendapat transfusi darah HB naik, efek minum obat TB lumayan bagus frekuensi batuk berkurang namun dada terasa nyeri belum hilang sepenuhnya kadang sembuh kadang terasa sakit lagi. Well, kematian bisa datang kapan saja kita cuma bisa bersiap dan mempersiapkan yang penting ikhtiar sembuh sudah :) sambil jalani pengobatan tahap berikutnya.

Lanjutkan Baca, Pengobatan TBC: Kontrol Rutin Berjadwal

Friday, May 31, 2019

Rasanya Punya Penyakit TBC / TB Paru


Memang bener ya pernyataan "Penyakit bisa mengenai siapapun tanpa diduga" hal itu ternyata saya alami bahkan rasanya tanpa asal usul. Beda seperti penyakit sebelumnya maag kronis karena saya sadar pola makan yang buruk. Kalo ini, datang begitu saja.

Saya tidak menyangka 2 bulan lebih bertahan dari sakit, positif thinking akan sembuh sendirinya, tapi ternyata sebuah kuman sedang menggrogoti paru-paru saya dengan ganas. 

Hari itu berawal dari sugesti saya bahwa maag kronis saya belum sembuh total dan menimbulkan sederet masalah kesehatan lainnya, yang paling keciri adalah tidak nafsu makan. Setiap makan mual, muntah, asam lambung naik ke kerongkongan, menimbulkan paru-paru ikut basah termasuk menyebabkan batuk lama sembuh (pemikirin asal manusia tanpa gelar dokter dan kebanyakan baca gugel 😂 tapi gak periksa ke dokter)

Waktu semakin berlalu, cuaca Bogor terutama rumah baru yang saya tinggali semakin terasa dingin, lembab dan dingin. Kedua kamar dingin, dapur yang luas dingin, kamar mandinya apalagi air bak dan sumurnya bagai air dari kulkas. Tapi saya paksa nikmati karena hal seperti ini sangat jungkir balik dengan keadaan di Bekasi tempat tinggal saya yang puanasse minta AC.

Makan semakin malas, ini karena maag, pikir saya terus. Kekuatan tubuh semakin melemah, untuk jalan ke warung depan pun kira-kira 25 langkah bolak balik nafas sudah ngos-ngosan dan oh gak kuat. Saya mulai sering tergolek di karpet atau kasur.

Sebuah perjuangan sendiri untuk mandi, cuci, dan berwudhu apalagi ke warung depan. Saya lihat tubuh semakin kurus terutama bagian pundak lengan itu yang paling drastis.

Satu bulan lebih batuk masih tak kunjung reda. Batuknya biasa saja, berdahak bening berbusa saya baca di gugel karena asam lambung dan alergi. Ada yang bilang ini efek alergi dingin. Batuk dan gatal-gatal jika kedinginan. Gatalnya tidak bentol tapi pori-pori membesar setelahnya terlihat bintik-bintik menghitam (pori-pori bekas gatal), fix saya berpikir sakit ini karena alergi dingin.

Batuk sebulan lebih dengan dahak bening berbusa, lemas yang tak terkira, perasaan mudah letih dan teramat capek, serta penurunan berat badan perlahan namun drastis, wajah yang semakin putih pucat (berpikir mutihin karena tinggal di daerah sejuk)

Awalnya BB memang sedang turun karena maag tapi terus turun sampai hampir 10kg tanpa sadar.

Dua bulan berikutnya,
Demam setiap hari menjelang magrib mulai intens. Saya pikir efek meriang karena suhu pegunungan ditambah badan yang tinggal tulang. Namun saya tidak pernah khawatir karena setiap tengah malam demam selalu turun dengan sendirinya, tapi yang keluar keringat dingin. Demam setiap menjelang malam berlangsung satu bulan lebih, disusul nyeri tulang dada bagian kanan (hanya beberapa hari). Warna wajah semakin putih pucat, tidak ada lagi warna kuning langsat, setiap saya buka dan lihat betis warnanya beda sungguh putih sudah tidak ada kulit langsat kebanggaan yang ada putih salju.

"Apakah ini karena saya tinggal di tempat sejuk?"

Anemia terus melekat. Bawah mata saya terlihat semakin putih bahkan tidak biasanya tidak ada segaris merah pun, semuanya putih. Dalam hati berkata "seperti mayat hidup pucat sekali, mungkin saya butuh zat besi".

Berjemur di bawah matahari pagi bagai merecarge tubuh, lsangat nyaman. Sayang rumah kami hanya sedikit sekali kena matahari, itupun tidak privasi karena rumahnya berdempetan dengan tetangga.

Saya merasa payah setiap hari apalagi syok melihat badan tinggal tulang bagian pundak, lengan habis, paha, bokong, tempat-tempat dimana itu lemak paling bohay hilang. Menangis??? Iya. Saya belum sadar itu TBC saya masih menyalahkan maag. Makannya saya enggan berobat karena merasa ini efek maag dan sudah punya obatnya. Ditambah jarak tempat berobatpun jauh dari tempat tinggal baru. Semakin waktu berjalan semakin penasaran. 

Ya Allah saya sakit apa?

Pernah terlintas dibenak, apakah TBC? ah tidak mungkin, batukku tidak dengan darah kok..

Beberapa bulan yang lalu saya niat berobat di Bekasi saat berada di Bekasi namun beberapa kali urung dilakukan karena waktu terbatas. Berobat di Bogor tidak memungkinkan karena akses lokasi tempat tinggal saya dan kendaraan pribadi sulit. Naik umum dengan kondisi super lemah itu sulit. Bahkan ketika rasa lemah itu terasa sangat lagi saya terus tergolek, anak hanya bisa memanggil terus mamahnya untuk bangun. Saya sudah pasrah dan disempatkan menulis surat wasiat. 


Hari itu datang,
Ketika mas suami sebentar lagi cuti libur lebaran, pikir saya sudah rindu ke Bekasi untuk istirahat total dan berobat. Namun hari itu terlalu lah untuk naik kendaraan umum (KRL). Kenapa gak bareng mas suami? Dia masih ada sedikit kerjaan beberapa hari lagi. Namun firasat untuk ke pulang segera sangat kuat, "aku harus berobat, aku gak boleh mati disini". Namun gagal karena gak kuat jalan. Hingga pada esoknya saya berencana pergi pagi itu namun "gubrak" tergolek lemah lagi dikasur yang sangat dingin itu. Akhdan terus mengoceh, memanggil nama saya. Saya sering menangis bukan karena sakit karena sungguh sakit melihat akhdan menyaksikan emaknya seperti ini di depannya.

Tertidur pagi itu sebentar akhdan masih nemplok melek di belakang punggung saya, mendadak bangun melihat anak. 

"Kalo kaya begini terus kapan saya ikhtiar sembuh, kuat gak kuat harus dipaksa jalan ke Bekasi, yang penting saya ingin sembuh untuk akhdan" 

Saya bangun, rapih dan meminta mas yang sedang mengajar untuk mengantar saya ke stasiun Bogor. 

"Ya Allah beri saya kekuatan diperjalanan"

Alhamdulillah sepanjang perjalanan sangat dipermudah Allah padahal sedang ramai demo di jakarta pusat masalah pemilu itu, yang mengakibatkan transportasi lumpuh. Siang itu kereta ramai lancar saya selalu dapat tempat duduk, meskipun hampir tidak dapat saat mendapat KRL Bekasi beruntung bertemu dengan petugas jadi diberi pioritas. Di stasiun transit sempat istirahat maksi akhdan mengisi tenaga alhamdulillah makanan seafood udon cocok di perut si maag mengisi tenaga. 3 jam perjalanan penuh perjuangan, akhirnya sampai juga ke rumah Tambun.

Suhu lantai atas yang pengap, hot, gerah, sangat saya rindukan haha.. jamuan ala ratu dari mamah sangat diutamakan. Apa langsung berobat? Tidak. Saya merasa lebih nyaman, suhu hangat, istirahat total tidak ada lagi masak, cucian kotor, anak anteng main di luar, cemilan makanan selalu sedia di depan mata, tugas saya makan, makan, istirahat, nyuruh-nyuruh, haha..

Sampai saya merasa cukup sehat saya pergi berobat. Kecuali baru beberapa hari ini dada bagian kiri terasa sakit.

Di klinik BPJS saya menimbang BB. Disitu saya baru tahu berat badan yang drastis itu, 36kg!!!!! 48 ke 36kg! Kalo dikata lebay saya memang perasa. Saya nangis. Sakit apa?
Ketika saya menyebutkan lebih ke'batuk yang hampir 3 bulan, dokter fokus curiga ke paru bukan lambung. Jadilah saya di rujuk ke Rumah sakit untuk periksa ke Dokter Spesialis Paru.

Masih dalam keadaan lumayan merasa sehat, dan di cek ini itu, rontigen, darah, pernafasan, dokter bilang saya terkena TB Paru-paru atau TBC, tuberkulosis atau orang awam bilang flek paru. Saya melihat hasil rontigen bahwa memang tulang dan paru bagian kanan sedikit berbeda dari yang kiri. Semacam ada gambar pembesaran dan tulang yang beda, sekali lagi dokter munjukan padaku bahwa ini TB paru.

Tanda Awal Penyakit TB Paru

  • Batuk yang berlangsung lama lebih dari 3 minggu
  • Capek berlebihan
  • Anemia (bisa dilihat dari warna kulit yang semakin putih pucat)
  • Tidak nafsu makan dalam jangka lama
  • Penurunan berat badan drastis 
  • Lemas bahkan tak mampu bergerak jika sudah parah
  • Merasa dingin
  • Demam malam hari dan berkeringat dingin
  • Dalam tahap lanjut/parah dahak berwarna kecoklatan sampai darah
  • Dalam tahap parah dada mulai terasa sakit

Sedih banget, pertama yang saya ingat saat dinyatakan TBC adalah mati. Karena masuk dalam 5 penyakit mematikan di Indonesia. Dan TBC ini sudah sangat umum di Indonesia. Jika kekebalan tubuh bagus, dan seting terpapar sinar matahari, bakteri infeksi TB akan mati dengan sendirinya. Tapi tuhan sedang menguji saya.

Hari berobat itu juga, saya dirawat inap. Tidak ada persiapan seperti pakaian, dan lain-lain, tiba-tiba saya dipisahkan dengan mereka yang mengantar saya berobat, terutama anak. Saya langsung diinfus, diambil darah, cadar diganti masker lalu masuk kamar isolasi. Kamar dimana hanya satu pasien bukan karena kelas VIP dan penjenguk harus satu orang. Anak mungkin kaget karena tiba-tiba disuruh menjauh dari saya. Ya saya masuk rawat inap untuk pertama kalinya dalam hidup saya.

Lanjut baca, Pengobatan TB paru part 2

Friday, January 18, 2019

Pelajaran ke 7: Pilih-pilih Teman



Kata siapa berteman itu tidak boleh pilih-pilih? 

Kalo buat saya mencari teman itu harus pilih-pilih! Saya orang yang pemilih dalam hal mencari teman, makannya bisa dilihat saya ini gak punya teman yang kumpul-kumpul segambreng atau ngegank 😆. Tapi jangan negatif thinking dulu. Soal siapa yang menjadi teman pilihan kita itu tergantung niat dan tujuan kita untuk apa berteman dengan X.

Niat, seperti cari yang kaya, populer, smart, baik, dermawan, ramah, sosialita, exist, dll.
Tujuan, seperti untuk bersenang-senang? Sebagai tempat curhat, teman ngobrol, memperluas jaringan bisnis, dan sebagainya. Pengalaman memilih teman  saya ambil dari pengalaman saya saat remaja. Mempunyai berbagai teman dari sifat, kebiasaan, dan pergaulan, dari situ saya belajar menjadi pemilih dari soal berteman.

Tidak sembarang niat dan tujuan mencari teman dan saya juga yang bukan yang anti teman, atau cupu, biasa saja kok saya ramah dengan siapa saja, week 😂. teman punya andil besar mempengaruhi kehidupan kita. Apakah membawa pengaruh buruk atau baik? Terlebih jika itu keburukan, biasanya seseorang tidak menyadari itu. Itu bahayanya.. dan ini gak hanya berlaku buat saya aja, anak-anak remaja pun malah lebih rentan jadi peniru dan mudah terpengaruh, harus tahu rambu-rambu berteman yang baik itu.

Hadits tentang berteman,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ (أخيه) الْمُؤْمِنِ

Seorang mukmin cerminan dari saudaranya yang mukmin [1]

Kalau seorang biasa berkumpul dengan seseorang yang hobinya kumpul-kumpul alansosialita, maka kurang lebih dia seperti itu juga. Begitu pula sebaliknya, kalau dia biasa berkumpul dengan orang yang rajin ngaji, maka kurang lebih dia seperti itu.


الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

Ruh-ruh itu bagaikan pasukan yang berkumpul (berkelompok). (Oleh karena itu), jika mereka saling mengenal maka mereka akan bersatu, dan jika saling tidak mengenal maka akan berbeda (berpisah) [2]


الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman [3]

Sudah dapat dipastikan, bahwa seorang teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap temannya. Teman bisa mempengaruhi agama, pandangan hidup, kebiasaan dan sifat-sifat seseorang.

Setelah mengetahui betapa pentingnya memilih teman yang baik, sifat dan karakter orang yang pantas dijadikan sebagai teman dan sahabat akrab diantaranya adalah,

  • Berkata baik dan berakhlak terpuji,
  • Berakidah lurus, 
  • Bermanhaj lurus, 
  • Taat beribadah dan menjauhi maksiat, 
  • Teman yang suka menasehati dalam hal kebaikan, 
  • Zuhud terhadap dunia dan tidak berambisi mengejar kedudukan: Teman yang baik tentu tidak akan menyibukkan saudaranya dengan hal-hal yang bersifat keduniawian, seperti sibuk membicarakan model-model handphone, mobil mewah keluaran terbaru dan barang-barang konsumtif yang menjadi incaran kaum hedonis, Banyak Ilmu Atau Dapat Berbagi Ilmu Dengannya, 
  • Berpakaian yang Islami, 
  • Selalu menjaga kewibawaan, sosok yang tidak banyak bergurau dan meninggalkan hal-hal yang tak bermanfaat.


Simaklah keterangan Syaikh Muhammad al-‘Utsaimîn rahimahullah berikut, “Jika di dalam pergaulan dengan orang-orang fasik menjadikan sebab datangnya hidayah baginya, maka tidak mengapa berteman dengannya. Engkau bisa undang dia ke rumahmu, kamu datang ke rumahnya atau kamu jalan-jalan bersamanya, dengan syarat tidak mengotori kehormatan dirimu dalam andangan masyarakat. Betapa banyak orang-orang fasik mendapatkan hidayah dengan berteman dengan orang-orang yang baik.”[16]

Di tengah masyarakat, jika kamu tidak memilih teman yang baik, maka tinggal pilih; kita yang akan mempengaruhi orang-orang untuk menjadi lebih baik atau kamulah yang menjadi korban pengaruh buruk lingkungan (kawan-kawan) Ingat! Tidak ada pilihan yang ketiga.

Sumber referensi hadits https://almanhaj.or.id/3480-teman-bergaul-cerminan-diri-anda.html


And langkah awal yang sederhana itu bisa kita mulai dari unfollow/unfriend untuk menyaring teman, haaha. Kalo belum kenal biasanya saya malas follow kecuali postingannya membawa manfaat yang positif, atau teman-teman rekan kerja, sesama blogger, alumni sekolah. Bukan berarti pilih-pilih teman itu gak berteman tetapi tetap jaga silahturahmi.

Jadi saya bulatkan, pilah pilih teman itu harus! Tapi jangan pilah pilih kalo dalam soal kebaikan ya 😊




Wednesday, January 9, 2019

Pelajaran ke 6: Usahakan Masak Dari Pada Beli lauk di Luar

ilmu memasak

Tantangan menjadi ibu rumah tangga salah satunya adalah memasak di rumah. Ini adalah salah satu bukti bahwa seorang ibu ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga. 

Hati tergelitik ingin menulis tentang Usahakan Masak Dari Pada Beli lauk di Luar, sebenarnya gara-gara kompor saya rusak. Ya, kepala selangnya itu klik'an nya yang untuk mengunci tabung gas kendor, dan harus menunggu beberapa waktu buat beli lagi dan menggantinya dengan yang baru 😩 Alhasil sementara waktu ini harus beli makan jadi dulu. 

Sesuatu yang sedang saya hindari betul sebenarnya, "beli makan di luar" karena memang sakit maag kronis ini bikin saya gak boleh makan sembarangan lagi. Dan riwayat akhdan DBD membuat akhdan harus memiliki imun yang kuat, salah satunya asupan gizi. Asupan gizi ini sangat jarang bahkan hampir tidak ada jika kita dapatkan makanan dari luar. Kenapa bisa berpikir seperti itu?

Beli makan di luar itu, memang banyak yang enak, gaol, gurih-gurih nyoy, dan paling penting praktis. Harganyapun sangat terjangkau tergantung kelasnya 😬. Tetapi, menurut survei dan pengalaman saya sering menemui jajanan/lauk-pauk diluar itu, 👇

❎ Tidak di tutupi tirai atau talase kaca dan sebagainya untuk menutupi makanan. Ini yang paling banyak saya temui dan harus selektif lagi jika cari makanan diluar. Sekalipun itu jajanan yang sehat seperti jus yang beberapa waktu saya beli, beberapa buah yang sudah dipotong untuk nanti di pakai lagi disimpan di nampan plastik di atas gerobak jus tanpa di tutupi dan itu waktunya bada magrib loh. Daging burung, beserta ati ampela juga banyak yang di jual tidak di tutupi kaca/tirai dan itu bukanya malam loh di pinggir-pinggir jalan. 😱


Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
( إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ ، وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا ، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا، وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ ) رواه البخاري (3280)

Jika malam datang menjelang, atau kalian berada di sore hari, maka tahanlah anak-anak kalian (di rumah), karena  ketika itu setan sedang bertebaran. Jika telah berlalu sesaat dari waktu malam, maka biarkan mereka (jika ingin keluar). Tutuplah pintu dan berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya setan tidak dapat membuka pintu yang tertutup. Tutup pula wadah minuman dan makanan kalian dan berzikirlah kepada Allah, walaupun dengan sekedar meletakkan sesuatu di atasnya, matikanlah lampu-lampu kalian” (HR. Bukhari 3280, Muslim 2012).

Salah satu perintah di atas adalah dianjurkan menutup makanan di dalam rumah apalagi di luar rumah. Karena memang banyak sekali resiko buruk jika makanan tidak ditutup.

❎ Tidak menjamin kebersihannya. Kalo yang ini sebenarnya kita tahu, gak tahu ya, kamipun udah tahu gimana si penjual ngolahnya, keadaan kedainya, kadang masih tetep aja kita beli dengan dalih, yang penting enak.

❎ Tidak menjamin kehalalannya. Kita juga tidak tahu makanan yang dijualnya terlebih jika itu daging apakah disembelih dengan menyebut bismillah atau tidak.

❎ Tidak menjamin gizinya terjaga atau terbuang. Saya pernah lihat masakan di rumah makan yang bila tidak habis akan di simpan dan di hangatkan kembali keesokan harinya. Ini menyebabkan makanan yang tadinya bergizi menjadi lemak jahat.

Dulu motivasi memasak adalah agar suami betah di rumah, agar suami menikmati masakan istri yang dibuat spesial, meskipun kadang hambar dan gagal 😝 tapi masak di rumah meminimalisir kan kena penyakit, terakhir agar hemat pengeluaran Rumah tangga.

Tapi sekarang masak di rumah itu fokus untuk kesehatan juga keberkahan. Alasan saya masak di rumah lebih kuat lagi semenjak tinggal di perkotaan kembali.

Di kota apa sih yang paling asyik? Semua serba ada, semua serba praktis, mudah di dapat, mudah di akses dan selalu kekinian termasuk dalam hal kuliner. Kuliner tidak pernah mati selalu ada saja penjaja kuliner yang lagi nge-hits. Contohnya ayam geprek, es kepal Milo, pisang nyemplung, sotang, dan masih banyak lagi yang membuat kita harus kuat iman untuk pilah pilih jajanan di luar.

Makan di luar boleh saja kok tapi jangan sering-sering dan perlu cermati juga.

TIPS Ibu Masak Di Rumah 


📌 Selalu Tutupi Makanan, cemilan, minuman yang sudah atau setelah di sajikan.

📌Pengetahuan ilmu memasak juga penting. Ilmu memasak ya, bukan ilmu resep. Contohnya tidak menghangatkan daging berulang kali, berhari-hari karenaberhati-hati karena akan mengubah gizinya, memasak sayuran hijau jangan terlalu lama, makan lauk darat dan seafood secara terpisah, buah bukan sebagai pencuci mulut tetapi cemilan, air putih lebih baik ketimbang syirup, dan masih banyak lagi.

📌 Makanan sehat yang murah itu banyak sekali, buanyyaak buibu, jadi jangan punya mindset makanan spesial itu adalah menu mewah. Selain pemborosan biasanya makanan yang berlebihan merusak kesehatan, seperti kolestrol, dan menghindari mubazir.

📌 Apapun yang ada di dapur jika lagi bokek buatlah setulus hati jangan ngedumel. Ngedumel, mengeluh, di depan rezeki seperti tentang masakan, yang gak enak, gak suka, gagal, bikin rezeki seret. Gak enak lebih baik diam dan belajar masak lagi.

📌 Kadang kala kita harus lihat sikon keuangan suami. Jangan memaksa makan atau masak makanan berpengeluaran besar saat sedang bokek. Atau berkebun berguna untuk menghemat kebutuhan dapur.

📌 Jangan lupa baca bismillah

📌Abis masak terlebih ada suami harus kembali jadi bidadari lagi alias dandan, lepas baju daster bau bumbu dapur.


Sekarang karena udah jadi seorang ibu, barulah saya tahu kenapa masakan ibu itu selalu juara buat keluarganya. Meskipun kata orang gak enak 😆 atau kadang-kadang gagal 👻

Masakan ibu selalu di buat dengan ketulusan cinta dan menghasilkan keberkahan 😊

Mungkin kita salah satunya dari sekian banyak anak yang memfavoritkan masakan ibu. Saya pun merasakannya, sekalipun masakan ibu ada sesi yang tidak enaknya, hambar, selalu membuat saya rindu. Karena setiap masakannya adalah buah cinta darinya 😍😘

Jadi, wahai para suami jika masih melihat istrimu lagi ngoprek di dapur atau masakannya kadang hambar, gak enak dan gagal 😂 Syukuri saja lah, itu karena ia bisa berhemat tidak membeli makan di luar. Berilah uang belanja masak, jangan pelit. Itu tanda sayangnya pada dirimu dan anak-anakmu agar dapat memakan makanan yang bergizi dan berkah dari nafkahmu.

Sunday, January 6, 2019

Bukan Sembarang Buzzer

tentang influncer, buzzer, endorser

Tiba-tiba pengen nulis tentang dunia Buzzer termasuk influencer dan endorser, gara-gara baca berita (entah hoax atau bukan) yang jelas langsung mengingatkanku pada kehati-hatian untuk meng'endorse produk atau menjadi buzzer di medsos. Saya sendiri kadang kala ada menerima kerja sama menjadi buzzer atau ketiga jenis kerja sama itu. Buat yang masih asing mendengar ketiga nama ini, baik saya kasih penjelasannya dulu tentang apa itu endorser, buzzer dan influencer?

Endorser: cara kerja endorsement adalah pebisnis memberikan produk untuk kemudian direview dan dipromosikan oleh endorser. (Biasanya artis)

Buzzer: Buzzer berasal dari kata buzz yang berarti berdengung, desas desus, a rumor. Seorang buzzer biasa menyampaikan serangkaian informasi secara berulang-ulang. Bisa jadi soal makanan, pakaian, lokasi wisata. Followers atau audience buzzer sangat banyak. Valuebuzzer sendiri umumnya untuk menyebarluaskan informasi seluas-luasnya. Pilihan untuk menyukai produk dan mencari tahu lebih dalam akan dikembalikan kepada tiap audience. Hal ini karena buzzer tidak punya tugas menggiring opini atau mengajak followers untuk mengikuti sarannya. (Blogger banyak banyak juga yang berkerja sama menjadi buzzer)

Influencer: seorang influencer perlu memiliki skill khusus untuk meyakinkan banyak orang agar tertarik dan mau mencoba produk yang ia promosikan. Umumnya influencertidak punya followers sebanyak buzzer, akan tetapi memiliki engagement rateyang lebih tinggi. Influencer sendiri tak serta merta harus expertatau ahli tentang produk yang ia tayangkan, asalkan paham bagaimana mempromosikan dan mengiring opini publik. (Ada juga blogger yang bekerja sama menjadi Influencer)

Tugas mereka terlihat sama namun sebenarnya tiga terminologi tadi memiliki role yang berbeda-beda. Hal ini patut diketahui setiap pebisnis online agar tidak terkecoh dan dapat merumuskan marketing plan yang tepat.

Sumber referensi https://meeberpos.com/blog/index.php/2018/04/01/beda-buzzer-influencer-endorser/


Blik ke awal kenapa saya terbesit untuk menulis Bukan Sembarang Buzzer. ini tentang aplikasi keuangan yang 'katanya' punya asing masuk ke Indonesia (tidak bisa saya sebutkan namanya, karena belum di teliti betul kebenarnya) sebelumnya kita punya di Indonesia e-money milik mandiri, Flazz dari BCA, paytren, dan fintech legal lainnya. Dan waktu itu saya hampir menerima tawaran kerja sama untuk mengendorse aplikasi berupa dompet digital, yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya untuk mengetahui 'asal-usulnya seperti didirikan siapa, dari mana asalnya dan bagaimana pengaruhnya' yang tidak sempat saya ikuti karena sedang sakit tempo lalu. Tidak hanya aplikasi dompet digital, fintech pinjaman uang online ilegal asal Cina pun sudah meluas di Indonesia. Well ini juga Peringatan buat saya untuk berhati-hati mempromosikan sebuah produk/brand baik dalam bentuk promote lewat medsos maupun content palacement di tulisan blog, karena ada beberapa lebel blog saya menulis tentang finansial (maaf keun jika masih banyak kekurangannya dalam penulisan dan sharing)

Loh, kalo alasannya punya luar banyak kok brand asing di Indonesia yang kadang-kadang masih kita pakai/konsumsi?

Ya, memang banyak kok yang sudah dilegalkan dan banyak juga yang ilegal. Saya juga terkadang sadar tidak sadar memakai atau membeli. Meski jarang dan memang sedang belajar 100% Indonesia, membatasi itu. Di tengah arus kencang life style, yang kalo kata anak muda kekinian "kalo gak ngopi di Starbucks selfie dulu rasanya gak keren" 😆 Nora ya. Just itu perdagangan internasional dan legal, yang bisa kita pilih, pilih asli indo atau lebih suka produk luar? yang intinya sama aja membuat kita ketergantungan dengan negara lain. 

Buat beberapa orang mungkin tidak mempermasalahkannya, namun ini komitmen saya pribadi sebisa mungkin menghindari itu secara tahu maupun ketidak tahuan saya.


Back to Poin satu, harus hati-hati dalam memilah milih produk yang mau saya terima untuk kerja sama. Siapa sih yang mau ikut terlibat dengan sesuatu yang merugikan? Tanggung jawabnya berat loh.
masih ingat dengan pemberitaan yang sempat heboh kemarin di televisi tentang beberapa artis kenamaan yang ikut dibawa ke kantor polisi karena endorsein produk skin care palsu? ya itu segelintir kerugian dari sang endorser meskipun tidak dipenjara. Tapi dari situ saja kita sudah bisa menilai sendiri bahwa kehati-hatian memilah kerja sama dengan sebuah brand/merk itu perlu. Jangan asal instan dan money. Belum lagi targetnya masyarakat Indonesia yang ikut di rugikan. Itu kenapa saya berpikir memilah milih produk untuk di endorse di medsos kita sangat penting. Karena berdampak pada yang kita ajak pula kan?


Poin kedua, pernah saya melihat sebuah artikel yang membuat saya kaget, tapi sekaligus membuat saya introspeksi lebih lagi. Karena judulnya menjelekan pekerjaan influencer. Saya lupa judul detailnya tapi saya ingat kalimat ini,
"Pekerjaan kotor Influencer" Sayangnya saya tidak sampai membaca sampai habis karena gangguan sinyal. 😫

Sebagian orang mungkin merasa menjadi Influencer itu tidak jauh berbeda dengan sales jaman now. Hmmm, kalo mengingat sales penjualan kita pasti sudah hafal pintarnya sales menggiring pembeli. Its okay kalo barang itu bermanfaat dan benar-benar dibutuhkan pembeli tidak ada unsur mudarat nya gapapa kan, saling membutuhkan dan memberi manfaat, secara tidak langsung kita juga membantu si sales tersebut untuk mendapatkan fee. Tapi, yang salah itu kalo sales berbicara bohong apalagi merugikan orang banyak. Ini yang harus seorang influencer bijak saring dulu jika mendapat tawaran berkerja sama.

Bukan hanya produk, karena buzzer dianggap dapat memberikan pengaruh yang cukup kuat di dunia digital seperti sekarang ini, sehingga mereka sekelompok orang melibatkan buzzer untuk kampanye pemilihan legislatif!

Memangnya ada yang salah jika ikut kampanye dengan hastag tertentu atau simbol yang berbau politik?
Tidak salah jika itu memang pilihan dari hati kita dan tidak black campaign. yang salah itu yang di bayar untuk membuat opini yang tidak benar, mempengaruhi orang tapi menjelekan Rivan. 😱

Itu balik ke pilihan kita masing-masing, mau jadi buzzer seperti apa? Jangan sampai kritikan artikel "Pekerjaan kotor Influencer" itu benar!

Jadi kesimpulannya adalah, boleh saja mendapatkan bonus dari hobi seperti ngeendorsin/buzzerin/influence sebuah produk, tetapi tidak lupa memilah milih dulu dengan bijak. Semua itu tergantung pilihan kalian sih, mau jadi Buzzer, atau influencer tipe seperti apa 😊 Kalo saya sih pinginya yang membawa manfaat untuk orang banyak. Ini juga menjadi peringatan saya sendiri yang masih tahap belajar dan terus belajar mencari jati diri di dunia blogging. tapi jika masih ada kekurangan saya seperti postingan di feed media sosial, dalam ketidak tahuan saya gapapa tegur aja. Saya bukan manusia sempurna 😊