Showing posts with label Edukasi. Show all posts
Showing posts with label Edukasi. Show all posts

Friday, January 11, 2019

Cerita di Balik Perdagangan Orang

perdagangan orang

Pemberitaan di media tentang portitusi online artis, mencuat lagi kepermukaan. Dengan kasus perdagangan orang atau hukum yang di beratkan kepada sang mucikari. Padahal menurut saya, bisnis jual diri ini tidak melulu tentang perbudakan seks tetapi bagaimana jika atas sama-sama bersedia, atau saling menguntungkan pelaku dan tersangka (gak bisa nyebut korban karena dengan suka rela kok si penjaja itu) sehingga sulit diberi hukuman di Indonesia bagi sang penjual diri. ya sebut saja sudah menjadi mata pencahariannya. Heboh iya, tapi tidak sampai menuntaskan ke akarnya.

Sebenarnya, yang harus dibenahi bukan mucikarinya saja tetapi hukum yang berlaku di Indonesia ini tentang portitusi sangat tumpul, jadi tidak heran dan jangan norak, kalo berita ini akan terus muncul. Sekarang artis VA tahun depan artis inisial  I, U, E, O. Itu tidak penting, ngurusin kepoin ngedjuge artis, wong akarnya aja gak dibenahi. Apa itu akarnya? Hukum Indonesia masih memakai jejak hukum Belanda.

Udah gak usah mampir-mampir baca berita di portal online tentang kasus VA, apalagi langsung cuss buka medsos dan bergabung menjadi netizen maha benar yang mendjuge sana, sini. Lebih baik saya menulis tentang Perdagangan Orang, Target dan Cara Mencegahnya Butuh Peran Masal Masyarakat.

Sebenarnya, jika kalian mau lebih membuka mata, telinga, lebih dalam lagi, ini lebih dari sekedar ngomongin artis. Kalian harus tahu portitusi yang masuk dalam perdagangan manusia itu seperti apa. ya, perdagangan budak seks. Dari zamannya perempuan mudah dilecehkan, bayi perempuan dikubur hidup-hidup, dan diperjual belikan sampai sekarang masih beroperasi gila-gilaan.

Human Trafficking


Kata itu membuat saya teringat kembali tentang seminar saat menghadiri rapat pendidik di Desa Gabus Wetan saat dulu pernah menjadi guru. Waktu itu orang dari yayasan kemanusiaan (saya lupa nama yayasannya, tapi saya ingat kantornya ada di ds. Parean kec. Kandanghaur, Indramayu) memberi edukasi kepada para guru, dan tokoh masyarakat lainnya tentang pencegahan Perdagangan orang yang rata-rata anak di bawah umur. Seminar ini seperti bimbingan untuk murid kami, teman kami, tetangga kami, agar tidak mendukung mereka untuk bekerja di bawah umur atau di bawah 18 tahun karena rentan menjadi korban perdagangan orang. Sekolah-sekolah di kampung berbeda dengan di kota. Banyak mereka yang tidak melanjutkan sekolah dan lebih memilih bekerja.

Menjadi pengajar di sekolah yang jauh dari banyangan sekolah keren perkotaan, juga terbuang, membuat saya melek lagi "Bahwa anak Indonesia masih banyak sekali yang terlantar, minim pengetahuan, dan mutu pendidikan yang kurang"

Hasil sharing dari seminar mencegah traficking itu pernah saya pernah tulis di blog dan Kompasiana, Namun lebih ke tema kekerasan terhadap perempuan dan anak dan itu sudah lama sekali saya tulis.

Disini Bersama Kita Hentikan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak


Pembukaan seminar itu di awali dengan cerita para korban traficking yang tidak lain lebih banyak di daerah tempat saya tinggali waktu itu, Gabus wetan, kab. Indramayu. Kecamatan ini tidak lepas dari sejarah perdagangan manusia paling banyak se-Jawa barat. 😱

Kurangnya pemahaman orangtua terhadap agama, kesulitan hidup seperti faktor ekonomi, dan banyaknya anak-anak broken home juga yatim buatan. Yatim buatan, adalah orangtua lengkap tetapi tidak ada perannya, karena banyak keluarga utuh tetapi orangtua perempuan lebih banyak memilih bekerja ke luar negeri sebagai PRT.

Bagi anak muda disana bekerja di luar negeri seperti taiwan, hongkong, arab dan korea menjadi sebuah tujuan karier, sekalipun kerjanya hanya sebagai ART atau di panti jompo. Paling beruntung buruh di pabrik tetapi harus merogoh biaya masuk puluhan juta. Single mom, maupun yang sudah bersuami tidak sedikit pergi bekerja ke luar. Secara tidak langsung kebiasaan ini diikuti turun temurun. Ingin sukses, ingin berhasil, sampai patah hatipun, rela bekerja di luar. Meskipun usia mereka masih usia sekolah ataupun baru lulus SMA/SMK. Niat itu pun di dukung oleh orangtuanya. Rasanya orangtua sangat bangga memiliki anak yang bekerja di luar negeri, pulang memboyong harta, mengharumkan nama keluarga dan bisa membangun rumah bagus. Memang tidak ada yang salah dari niat tulus untuk keluarga dengan ikhtiar. yang salah itu jika salah sasaran. Tidak munafik semua itu adalah tujuan materi atau duniawi yang kadang kita khilaf dan keliru mengartikan mencari kebahagiaan.

Sebut saja A seorang gadis usia belasan tahun, usia anak SMP, sejak kecil hidup diurus kakek neneknya yang miskin, ibunya lama tidak pulang pergi bekerja di luar negeri. A merasa ingin mengubah nasibnya dengan bekerja, ia memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Keputusan itu didukung oleh kakek neneknya. Tetangganya membantunya dengan menyebarkan informasi lowongan kerja, beberapa mereka ada yang ingin mengajak merantau ke kota, ada pula yang harus menyogok sejumlah uang terlebih dahulu. Hingga sampai informasi si A ngebet bekerja untuk mengubah nasib ke telinga orang yang tidak bertanggung jawab. Siapa lagi kalo bukan si mucikari beserta komplotan biadab itu.

A adalah gadis yang polos, pikirannya belum matang. Ia mudah tertipu dengan rayuan bohong sang mucikari dengan janji gaji besar, kerja di kota, perhotelan, salon, butik, ART orang kenamaan, membuat A yang sedang susah itu mudah tergiur. Tidak A saja, sang mucikari mengajak teman-teman A untuk ikut bekerja.

Setelah A dan teman-temannya masuk perangkap, mereka tidak langsung di jual. Pertama, mereka dibawa dan diasing kan dulu di sebuah mess di Jakarta. Para gadis malang itu di vermak habis, mulai dari suntik, dan dicekoki obat-obatan, diluar dosis batas usia belia mereka. Belum sampai disitu mucikari pun membuat para gadis polos itu tertahan dengan hutang besar, agar tidak bisa pulang sebelum bekerja. Bayar mess, biaya makan, biaya vermak wajah, body, dll. Awalnya mereka tidak sadar untuk apa diberlakukan menjadi seperti itu. Hingga pada saatnya mereka di jual di Bali. Mereka disuruh memakai pakaian senonoh minim bahan dengan wajah melongo, polos, dan di pajang begitu saja di hadapan lelaki hidung belang. 😭😭😭

Hati saya sesama perempuan, sebagai ibu, terisris sangat teriris. Ini kisah nyata dan ada di lingkungan kita. Pikiran berkecamuk, apakah ia salah satu murid yang pernah bersekolah di tempat saya mengajar? Saya lemas melihat cuplikan video korban yang berhasil diselamatkan para relawan kemanusiaan itu. Mereka seperti burung lepas kehausan mencari air.

Kabur dari sana tidak mudah! sudah diparketat, mulai dari akses, komunikasi, para oknum yang bekerja sama di balik layar, sudah hampir tidak mungkin untuk menyelamatkan diri disana. jika ketahuan para gadis yang dijual itu disiksanya. Rasanya untuk bisa bebas dari sana itu cuma mimpi, banyak yang menghabiskan sisa hidupnya di tempat neraka itu, mereka menganggapnya nasib, menerima dan menjalaninya, tidak sedikit mereka yang mati muda karena penyakit menular. Keluarga nan jauh hanya menerima kabar baik, baik, mengirim uang dengan nominal besar.


Yayasan perlindungan yang sudah saya lupa namanya itu, berhasil menyelamatkan beberapa anak dari praktek penjualan orang. Kalo tidak salah penyamarannya sebagai pelanggan dulu, hingga bisa chat dengan korban. Entah lebih detailnya saya lupa. Tapi saya ingat tim penyelamat itu membawa kabur 3 orang gadis asal Indramayu dari sekian banyak korban yang belum terselamatkan. Tim penyelamat membawa korban ke rumahnya untuk menginap sementara bersama istrinya. 3 gadis itu tidak memiliki pakaian lain sehingga memakai pakaian minim bahan yang membuat para tetangga yang melihatnya bertatapan sinis. Hingga keesokan harinya mereka diberi salin dan diantar pulang.

Tapi tidak semudah itu, perubahan fisik yang amat drastis, ditambah trauma selama bertahun-tahun, belum lagi menghadapi lingkungan sosialnya membuat korban kena mentalnya. Sehingga harus diberi bimbingan lagi di yayasan.



Sungguh ada pelajaran luar biasa yang saya dapatkan hari itu. Ayah, Bunda, anak-anak kita butuh kasih sayang dan bimbingan keluarga disekitarnya. Jangan ajarkan anak untuk mengejar kebahagiaan dengan materi tapi ajarkan anak untuk selalu bersyukur. Jangan izinkan anak untuk bekerja di bawah umur dengan dalih membantu orang tua. Membantu orangtua boleh saja asal dalam pantauan kita bukan dilepas kepada orang lain terlebih anak yang masih usia sekolah. Ayah Bunda, Jangan pergi bekerja ke tempat yang tidak bisa melihat anakmu dalam waktu lama.

Sikap kita dan peran masyarakat mencegah Human Trafficking


✔ Motivasi murid untuk terus bersekolah

✔ Kerja sama dan beri pemahaman kepada orangtua murid agar anak tidak pekerjakan dibawah umur

✔ Edukasi anak murid tentang Human Trafficking

✔ Peduli teman, jika kamu mempunyai teman di sekolah apalagi temanmu sedang kesusahan. beritahu juga informasi tentang perdagangan orang.

✔ Selektif dalam memilih pekerjaan dan minta bantuan orang yang berpengaruh di kampung untuk dimintai pendapatnya

✔ Tidak sembarang merekomendasikan orang asing penyalur kerja

✔ Jangan selfish dalam mendidik anak sendiri. Silih asah, asih, rangkul anak tetangga yang sedang kesusahan, tidak memiliki orangtua atau orangtuanya berada di luar negeri.


Betapa beruntungnya kita, yang masih ada di dekapan suami yang melindungi kita, yang bertanggung jawab, betapa beruntungnya kita tumbuh sebagai remaja yang lengkap dengan keberadaan ayah ibu disisi. Betapa beruntungnya kita dengan pekerjaan kita yang kadang-kadang membuat kita jenuh atau tertekan. Betapa beruntungnya kita yang masih bisa bangun tidur dan melihat sekeliling masih baik-baik saja, tidak ada rasa takut atau tertekan di ancam orang.

Namun janganlah semua itu melegakan kita bahwa "yang penting saya tidak bernasib seperti itu" "bukan saya yang ngalamin" "untung-untungan tidak seperti itu" dll, lalu menjudge mereka dengan sok tahu. Mereka anak perempuan tentagga kita, mereka anak murid kita, mereka keponakan kita atau pun mereka anak kita sendiri. Ayo semua lapisan masyarakat bersama-sama dukung pencegahan trafficking. Dan jangan kucilkan korban trafficking. Rangkul bersama dan berdayakan mereka ke jalan yang benar.

Monday, August 6, 2018

Pentingnya Kesehatan Psikis Anak untuk Pembentukan Karakter dan Moral

Kesehatan Psikis Anak

Melahirkan anak pertama di usia 20 tahun, merupakan tantangan tersendiri bagi mamah newbie seperti saya. Tidak mudah menjadi seorang ibu, apalagi di usia muda. Selain kesiapan mental ada banyak ilmu yang harus dipelajari untuk ibu pemula, karena tahap selanjutnya setelah menjabat sebagai istri, adalah menjadi seorang ibu. Ibu yang sukses menjalankan perannya, bukan hanya sekedar status karena telah melahirkan anak. Kenapa saya mengatakan demikian? karena tidak jarang saya melihat kejadian yang tidak menyenangkan antara hubungan orang tua dan anak. Ya, memang pengalaman parenting saya masih dangkal namun justru dari situ saya banyak mengamati pola asuh dilingkungan sekitar yang menjadi telaah untuk saya. dan yang paling sering saya amati dari pola asuh masyarakat adalah,

1. Orang tua yang pemarah: Ketegasan masih banyak disalah artikan, seperti kekerasan dalam bentuk hukuman. Jika ini sering terjadi maka akan mempengaruhi psikisnya. Anak dapat nilai jelek, orang tua marah dan mengeluarkan kata-kata kasar 'bodoh, pemalas', Anak melakukan hal yang tidak disengaja malah yang keluar dari mulut orangtua adalah ancaman "kalo kamu mecahin piring lagi mamah kurung jewer". Apa-apa cacian, tidak sesuai dengan harapan malah dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Lalu bagaimana anak bisa belajar tentang sabar jika orang tuanya tidak mau sabar mengajarinya belajar, bagaimana anak mau belajar jujur jika jujur saja ia mendapat makian dan akhirnya ketika besar ia menjadi pandai berbohong, lalu bagaimana anak mau belajar menghargai orang lain jika dirinya saja tidak dihargai oleh orangtuanya?

Baca juga Sekolah Tanpa Kekerasan Dalam Mendukung Sekolah Ramah Anak Melalui Pendekatan Disiplin Positif

2. Orang tua yang terlalu cuek. Anak berkehendak semaunya.
`
3. Tanpa sadar memanjakan anak berlebihan, lahirlah keturunan yang lemah mentalnya.

Pernahkah kalian melihat di berita tentang anak yang durhaka? kekerasan pada anak? Anak yang membully temannya atau anak korban bully? Anak remaja yang masuk penjara karena berulah? dan masalah lainnya tentang anak bangsa.

Lantas siapakah yang seharusnya bertanggung jawab?

Kebiasaan ini terus berulang terjadi turun menurun seperti tradisi. dari didikan yang salah turunlah pada generasi berikutnya, dan begitu seterusnya. Disinilah peran orang tua yang seharusnya menanamkan akhlak yang baik, dengan cara yang baik (panutan). berawal dari keluarga baru kemudian didukung oleh lingkungan sekolah, teman dan masyarakat.
Semua orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh baik secara fisik maupun psikis/mental. namun masih kurangnya kesadaran masyarakat yang hanya terfokus pada pertumbuhan secara fisik saja dan cendrung melewatkan prilaku dan psikis anak, padahal pembentukan perilaku dan psikis anak adalah pondasi bagi anak untuk tumbuh di lingkungan sosialnya kelak.

Baca juga Anak Tumbuh Menjadi Nakal? Intropeksi cara mendidiknya!

Ketika hati sudah memantapkan belajar menjadi orang tua yang baik, in sha Allah selalu ada jalannya. seperti kesempatan saya menghadiri talkshow parenting yang bertema "TIPS MENJAGA PSIKIS ANAK SEJAK DINI". Pada tanggal 31 Juli 2018, saya dari Bekasi menaiki KRL menuju lokasi tepatnya di Paradigma Cafe. Blogger gathering yang diadakan oleh MBC (Moms Blogger Community) bersama HALODOC membuat saya sangat antusias untuk menyimaknya. terlebih narasumbernya adalah seorang yang ahli di bidangnya, yakni Psikiater spesialis anak dan remaja dari RSCM.

oleh Narasumber Dr. Tjhin Wiguna Sp.KJ, adalah psikiater spesialis anak dan remaja di RSCM 
Dalam rangka memperingati hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli, Halodoc mengadakan talkshow ini agar orang tua bisa mendidik anaknya dengan cara yang lebih baik dan sehat menurut anjuran dokter. Dr. Tjhin Wiguna Sp.KJ, menyampaikan bahwa peran orang tua sangatlah penting dalam membangun perkembangan karakter dan moral anak. anak biasanya mencari panutan dalam membentuk bahasa, perilaku, sikap. karena orang tua merupakan orang pertama yang menjadi panutannya.

Selain peserta Mom Blogger Community (MBC) ada juga tamu yang diundang dari Halodoc. Mereka sangat serius namun santai saat dokter sedang memberi pengertian bagaimana meng'ASAH, meng'ASUH dan mengASIH seorang anak tanpa membuat mentalnya terluka. saya sendiri lebih asyik menikmati mendengarkan beberapa orang tua yang sharing tentang pola asuh mereka. cara penyampai sang dokter sangat mudah saya pahami, tidak bosan, dan selalu berbobot di setiap kalimatnya.

Di dalam talkshow Dr. Wiguna memberi kesempatan kepada para orangtua yang ingin bertanya seputar pola asuh. di tengah materi juga dokter juga memberikan contoh parenting dengan menjadikan peserta sebagai modelnya. dan membenarkan mana prilaku orang tua yang salah atau masih keliru dan mana sikap yang benar menghadapi bermacam-macam karakter anak.

Pemenang Media Social Halodoc 


Alhamdullilah, sepulang dari talkshow ada beberapa ilmu parenting yang membuat saya lebih berhati-hati dan sabar untuk mendidik anak-anak saya kelak. jadi, selain fisik permeliharaan psikis atau psikologi anak sangatlah perlu. Noted, PR lagi untuk saya agar lebih memperhatikan psikis anak dengan cara yang baik dan sehat! dari sini saya mendapat ilmu lagi yang ingin saya share kepada pembaca. 
Mengajari anak untuk menikmati proses seperti tidak harus selalu melindunginya, membelanya, atau memanjakannya. kadang di dalam kehidupan sosial banyak hal yang tidak menyenangkan ini pasti dialami oleh setiap individu. misalnya, anak akan mengenal beraneka macam karaker temannya dan belajar mengatasinya atau berdamai dengan keadaan. jangan apa-apa langsung difasilitasi biarkan anak menikmati sebuah proses.
Jika anak melakukan kesalahan STOP bunda langsung mencacinya atau malah membandingkan dengan orang lain yang dianggap lebih baik. jika ini terjadi pada remaja orang tua bisa diskusi dengan anak dan cari penyebanya, jika anak kita masih kecil biasakanlah untuk mengkritik perilaku yang 'salah' bukan orangnya. misal kalimat "anak bodoh, malas gak mau belajar!" bisa diganti dengan kalimat yang lebih positive dan mengandung pemahaman sebab-akibat "kalo kita malas belajar nanti gak pinter loh". (malas=perilaku) bukan orangnya (kata: anak bodoh)
Tanamkan semua pemikiran positive, seperti tidak berburuk sangka pada orang lain, memotivasi, memuji tidak berlebihan, serta menghargai setiap usahanya. insha Allah akan tertanam pada anak rasa percaya diri namun tidak sombong. dalam kejadian banyak saya amati beberapa anak remaja maupun kanak-kanak masih terjadi krisis percaya diri pada fisiknya, dan keadannya. motivasi dari orangtua amat penting untuk menumbuhkan rasa cinta pada dirinya dengan kerendahan hati.
Jangan terlalu ketat membatasi anak untuk bereksplorasi dengan dunianya. Protec boleh saja karena memang anak harus dalam pengawasan orangtua, tetapi jangan juga dibiarkan begitu saja. diawasi seperti di tengok setiap 10 menit dari pantauan kita. karena dengan bermain sang anak akan belajar banyak hal, terutama dalam perkembangan motoriknya. jika anak suka main hujan-hujanan pilih waktu yang tepat misal tidak ada angin kencang atau petir, dan dalam keadaan perut kenyang, juga tidak terlalu lama. atau suka main tanah? harus selalu mencuci tangan pakai sabun anti kuman sering-sering dan minum obat cacing. 
Sama seperti membiarkan anak bermain, dan menikmati proses. biarkan anak bermain dengan teman sebayanya, biarkan ia menikmati proses suka dukanya berteman. terkadang anak akan belajar menghadapi temannya yang pelit, suka merebut mainannya ada pula teman yang peduli, yang kompak. itu semua merupakan bagian dari pembelajaran untuk kehidupan sosialnya kelak.
Maksudnya adalah pendekatan disiplin positif dengan mengajari anak sebab-akibat yang ia buat jika lalai bukan hukuman, insha allah anak mampu bersikap konsisten. namun, seperti yang saya bilang di atas masih banyak orang tua yang keliru yang masih menerapkan kedisiplinan itu identik dengan kekerasan verbal maupun fisik. memang anak akhirnya menjadi penurut dan mau menerima hukuman tetapi dengan rasa ketidasadarannya atas konsenkuensi yang ia buat. 

"Penting bagi anak untuk tumbuh dengan baik agar bisa menjadi penerus bangsa yang sehat secara fisik dan mental di kemudian hari". Halodoc

***

Terima kasih kepada halodoc yang sudah ikut memperingati Hari Anak ilmu dalam talkshow parentingnya sangat bermanfaat. saya sendiri mengenal halodoc sebenarnya sudah lama namun belum tahu betul pelayanannya, tetapi dari acara tersebut saya semakin tahu lagi fasilitas apa saja yang halodoc berikan yang ternyata membuat saya angkat jempol. Karena memang sebelumnya saya sudah pernah pakai aplikasi kesehatan yang bisa chat dengan dokter namun tidak selengkap Halodoc.



Halodoc merupakan aplikasi kesehatan terpadu berbasis online yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan terpercaya dalam memenuhi kebutuhan kesehatan bagi pengguna. aplikasi halodoc dilengkapi dengantiga fitur utama. yakni, hubungi dokter, lab service dan apotik antar. Pharmacy delivery fitur layanan apotik antar 24 jam yang bebas biaya antar *s&k. Jadi, bunda bisa memesan obat langsung melalui fitur Apotik antar.

Bunda juga bisa berkonsultasi langsung dengan dokter anak melalui chat, video call, voice call. Aplikasi Halodoc memiliki tim medis mulai dari dokter umum, spesialis anak, internis, hingga dokter spesialis mata yang online 24 jam.


Jadi nostalgia saya dengan pelayanan kesehatan zaman dulu. dulu untuk sekedar konsultasi dengan dokter prosesnya lama sekali. harus naik angot dulu, antri pagi-pagi itu pun bejibun pasiennya, belum lagi biaya yang  konsultasi juga dan antri obat lagi. namun pas tau halodoc sebegini memudahkannya lagi-lagi saya bersyukur hidup di zaman ini, hehe. mau chat sama dokter, beli obat, vitamin, cek lab, gampang banget di halodoc.

yuk, dwonload aplikasinya Halodoc!

Informasi lebih lanjut,
website: www.halodoc.com
Instagram: @halodoc
#HariAnak
#PakeHalodoc
#HalodocxMBC


SELAMAT HARI ANAK 

Saturday, August 4, 2018

Pendidikan Seks Sejak Dini - Body Integrity untuk Perlindungan Diri

Body Integrity untuk perlindungan diri

Keperihatinan tentang banyaknya berita tentang pelecehan terhadap anak termasuk membuka kesempatan bagi para predator pedofilia. membuat saya ingin ikut menulis mengapa pendidikan seks harus dikenalkan sejak dini.

Bagi parents yang sering mengikuti seminar parenting mungkin sudah sering mendengar apa yang dimaksud pendidikan seks sejak dini atau mengapa harus dikenalkan sejak dini, namun ada juga sebagian besar orang tua yang masih menganggap tabu membahas hal yang amat sensitive ini.

Atau bunda salah satunya?
Bunda harus baca!

Tahukah bunda, sangat penting mengenalkan pendidikan seks sejak dini pada anak kita semata-mata untuk perlindungan diri dan sebenarnya memang harus sudah dikenalkan sejak kecil, sesuai tahap usianya. Pendidikan seks sejak dini dalam tanda kutip "Body Integrity" menanamkan rasa menghargai dirinya bahwa tubuhnya adalah miliknya yang perlu dijaga dan dihormati baik dirinya maupun orang lain. Dari sejak kecil orang tua harus sudah memberitahunya bahwa orang lain tidak boleh menatap, menyentuh, memegang apalagi menyakiti tubuhnya atau bagian tubuh orang lain dengan cara yang tidak sopan atau pemaksaan.

Orangtua sudah tahu tentang bahaya tentang pornografi, namun lupa cara mencegahnya seperti menanamkan rasa malu tentang aurat sejak dini.

Dari beberapa kejadian yang sering saya lihat (terutama di daerah perkampungan padat penduduk) sering membiarkan anak mereka buang air kecil sembarangan di depan umum, jalanan, bahkan got-got kecil. Ada pula mereka yang berhubungan dekat dengan si anak tidak jarang bercanda dengan menyentuh, menggelitik kemaluan si anak meskipun si anak terlihat senang, geli. "Sini om sunatin nanti"

Tetap Tidak boleh!

Anak kecil biasanya habis mandi lari-lari ketika hendak dikenakan pakaian. "Hey nak, pakai baju mu, pakai celana mu, atau jangan pipis diluar"

Ingat ajarkan anak malu dengan auratnya!

Disinilah peran orang tua yang pertama mengajarkan Body Integrity, baru kemudian didukung dari luar seperti keluarga besar, guru, teman dan masyarakat. Nah, pendidikan seks sejak dini ini bertahap dan disesuaikan dengan usia anak. Berikut tahap-tahap ya,

Body Integrity untuk Perlindungan Diri

IDENTIFIKASI DAN NAMAI BAGIAN TUBUH
Sama seperti bagian tubuh lainnya, bagian tubuh yang terkait dengan alat reproduksi penting untuk dijelaskan. Tetapi masih banyak orang tua yang mengganti nama bagian tubuh yang sensitive ini dengan nama-nama yang salah diartikan bahkan makanan?! Seakan-akan dosa besar jika anak menyebutnya (dosa jika katanya disalah gunakan) burung, barang, cucur, apem, pempek, ayo apalagi?!
Tidak bukan itu juga, maksudnya diganti dengan kata yang mudah dimengerti anak.

Lalu bagaimana kita menyebutnya dengan pantas?

Saya sendiri menyebutnya 'aurat' dan 'aurat atau kelamin' pada anak yang sudah beranjak remaja.

Ketika putra/putri kita membahas tentang yang berkaitan dengan organ reproduksi (remaja) Orang tua seharusnya tidak menghindari pembahasan ini. Karena akan menjadi agak rumit dan canggung untuk membahas termasuk mengenai pemeliharaannya. Anak perlu diajari caranya thaharah (membersihkan diri), istinja (membersihkan kotoran) dan juga mandi besar (mandi setelah menstruasi atau mimpi basah) bila sudah baligh. Bahkan yang lebih teknis dan spesifik seperti membuang pembalut pun baiknya diajarkan secara khusus.

FUNGSI
Menjelaskan fungsi bagian tubuh seperti pemanfaaatn serta konsekuensi dari pemanfaatan bagian tubuh itu sendiri. Jika anak sudah mengerti fungsi dari bagian tubuhnya, bisanya ia akan lebih kooperatif untuk menjaganya. misalnya ia tahu mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, maka ia akan menjaga mata atau telinganya dengan baik. anak akan tahu bahwa risiko benturan bisa melukai, maka ia akan menjaga tubuhnya agar terhindar dari resiko tersebut.

PEMELIHARAAN
Jika anak sudah mengerti fungsi-fungsi bagian tubuhnya maka ia akan lebih kooperatif untuk memelihara. Kebersihan, kesehatan adalah termasuk dalam bagian ini. Menyuruh apalagi memaksa anak mandi, sementara anak tidak merasakan langsung manfaatnya akan menjadi rutinitas yang melelahkan dan menguras emosi. Karenanya tetap penting untuk menjelaskan mengapa suatu aktivitas perlu dilakukan meski prosesnya tidak menyenangkan.

PERLINDUNGAN
Sekalipun ini tahapan tertinggi, namun dalam prakteknya tetap bisa dilakukan sejak dini. Ajari anak bagaimana melindungi dirinya.

1. Ajari anak Kapan, Siapa, Di mana dan Bagaimana ia boleh MENAMPILKAN tubuhnya. Termasuk bagian tubuh yang mana saja yang boleh ditampilkan.
- Bolehkah anak berdandan dengan make up tebal seperti orang dewasa?
- Pantaskah anak melenggak-lenggokkan tubuhnya di depan orang banyak?

2. Ajari anak Kapan, Siapa, Di mana dan Bagaimana ia boleh DISENTUH tubuhnya.
Ajari anak mengenali/mengidentifikasi ragam sentuhan mulai dari yang
- formal/sosial (misal; bersalaman),
- profesional (oleh dokter),
- kasih sayang (ciuman dan pelukan dari orangtua)
- sampai yang menjurus kepada seksual (misal; menyentuh alat kelamin) dan juga kekerasan (memukul, menampar, mencubit, dll).

Oleh karena itu,
- Bolehkah anak digendong dan dipangku oleh siapa pun apalagi yang berjenis kelamin berbeda?
- Pantaskah mencium anak yang kelihatan lucu apalagi oleh orang yang berjenis kelamin berbeda?
- Bolehkah anak dipukul atau ditampar bahkan oleh orangtua atau pun orang terdekat sekalipun. (Note; kekerasan, pelecehan seksual dan perkosaan secara statistik jauh lebih banyak dilakukan orang terdekat anak daripada orang tak dikenal).

3. Ajari anak untuk berani mengungkapkan perasaannya
- terkait tubuhnya (body sensing),
- melaporkan tindakan orang lain yang melanggar batas kepada orang yang dipercaya.
- atau bahkan belajar bela diri untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diharapkan.

Betul, bahwa bahasan dan kepantasan ini akan berkait dengan value setiap orang dan juga budaya dalam kelompok tertentu. Misalnya pendidikan seks negara barat biasanya berbeda dengan timur. kembali lagi kepada norma, budaya, kepercayaan pada kita masing-masing. Silakan saja orangtua menggunakan batasan dari value dan budaya yang dianutnya. Apapun value atau budayanya, tahapan-tahapan mencapai Body Integrity tersebut tetap penting dilakukan. Sehingga kita tidak terheran-heran ketika melihat dalam realita anak-anak yang diajari agama dan moral, tapi ternyata tidak memiliki body integrity ketika ia memperlihatkan, mem-foto, menshare tubuhnya secara terbuka atau membiarkan tubuhnya boleh diperlakukan bebas oleh orang lain.


Semoga Bermanfaat!




____________________________________________________________________

Tulisan ini hasil refrensi dari WAG parenting (Yeti Widiati 300716) yang saya baca lalu ingin saya kembangkan menjadi sebuah tulisan blog

*Istilah Body Integrity saya dengar pertama kali dari Mas Reza Indragiri Amriel seorang psikolog forensik saat membahas mengenai pelecehan dan kekerasan seksual pada anak dan remaja. Saya menurunkannya ke dalam bahasan psikologi perkembangan dan parenting yang lebih teknis. 

Sunday, July 29, 2018

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia

Montessori
Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia

Bunda pernah mendengar metode Montessori?

Pasti sudah tidak asing lagi ya ditelinga kita, tapi merasa masih belum paham betul?
sama kaya aku yang dulu, hehe. Nah, kali ini saya mau sharing tentang ketertarikan saya sama metode Montessori. bukan karena sedang trend "Montessori is a life style" tetapi memang benar nyatanya, karena metode ini memang sangat kompatibel dengan kebutuhan anak-anak zaman now. apa alasannya?

Pertama, beberapa waktu yang lalu dunia pendidikan heboh tentang Pro dan Kontra calistung, tidak hanya itu dunia parenting mendapat tantangan zaman lagi tentang dampak negatif penggunan gadget pada anak di bawah umur. Mengamati masalah diatas saya berpendapat bahwa semakin banyaknya orang tua yang menuntut kemampuan anak dengan memberikan edukasi instan. betul? 

Kedua, zaman berjalan dengan cepat, orang tua menginginkan anaknya agar berlari layaknya orang dewasa di dalam dunia mereka. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, tempat les, kursus, tanpa pendekatan, kesempatan bekerja sesuai dengan ritme anak sendiri.

Dan dari beberapa pengalaman serta pengamatan, anak lebih bahagia belajar dengan caranya sendiri, kemampuannya sendiri tanpa ada paksaan, dan dengan cara belajar yang konkrit membuat mereka mudah mengerti. oleh sebab itu kenapa saya bilang saya tertarik dengan montessori dan memilih menerapkan metode ini kedalam kegiatan sehari-hari anak saya di rumah, karena sebenarnya kegiatan ini sangat mudah dan biasa dilakukan, Montessori made simple. Montessori adalah metodologi yang paling sesuai untuk anak usia dini, selain itu dapat menangani problema tentang pengasuhan di zaman yang semakin berkembang seperti saat ini.

Montessori adalah suatu metode pendekatan untuk pengembangan kemampuan anak yang membantu setiap anak meraih potensinya di semua bidang kehidupan dengan memfokuskan pada kemandirian anak, sikap menghargai anak dan mempelajari hal yang konkrit.

metode montessori

Sekilas jika kita melihat montessori ini seperti games atau praktek-praktek dengan banyak benda dan 'wow mahal' karena banyak macamnya tapi ternyata itu hanya presepsi yang sebenarnya masih dangkal menurut ku. Metode ini sangat bisa dilakukan di rumah sekalipun dengan bahan yang ada. sok tengok dapur, ada tepung, ada garam, ada pewarna maknan, ada cetakan kue, coba kasihkan ke anak, kita lihat apa yang ia pelajari dan amati. lihat di kebun rumah buah jambu sudah masak, ada keranjang tinggal perintahkan anak memisahkan buah busuk dengan yang tidak busuk ke dalam wadah yang berbeda. Bunda hanya tinggal buat materinya saja dan sebagai fasilitator, biarkan anak melakukan observasinya sendiri. sebenarnya simpel kan? itu masih slah satunya dari sekian banyak lagi cara-caranya.

Okeh tidak hanya sebatas itu saja bahwa metode Montessori ini bisa dilakukan dirumah, namun ternyata saat ini sudah banyak preschool yang mengaplikasikan metode montessori. menurut saya ini adalah sebuah perkembangan pendidikan yang positif ya, karena biasanya sekolah montessori ini banyak diterapkan untuk sekolah ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) saja dan luar negeri. bagi bunda yang ingin menerapkan pendidikan Montessori ini sebaiknya harus paham betul apa itu metodologi Montessori, dari situ orang tua bisa dengan mudah memilih sekolah Montessori yang sesuai dengan filosofi Montessori itu sendiri.

Sistem pendidikan montessori ini, adalah guru menyediakan informasi dan bimbingan kepada siswa dilingkungan yang edukatif. memberikan kesempatan untuk secara bebas mengerjakan kegiatan-kegiatan yang diinginkan ini artinya setiap anak bisa mengedukasi kan dirinya sendiri.

Seperti mendapat akses baru yang mudah...

Masih tahap sedang memperdalam ilmu ini, saya yang tadinya masih naik perahu seperti diberi akses berlayar menggunakan kapal untuk menuju ke pendidikan yang lebih ahlinya lagi tentang metodologi montessori. akses tersebut adalah Montessori Haus Asia (MHA). Montessori Haus Asia ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi pendidikan dan pelatihan untuk guru dan orang tua. yuk kenalan lebih lagi dengan Montessori Haus Asia!

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia

Jakarta Montessori - Beberapa waktu yang lalu saya bersama teman-teman MBC (moms blogger community) berkunjung ke PT. Montessori Haus Asia Indonesia yang berada di Multivision tower lt.25, kuningan, Jakarta. Montessori Haus Asia Singapore didirikan oleh Mr. Allan Ang untuk membuat dan mengadvokasi lingkungan belajar montessori. MHA ini sendiri ini merupakan yang terbaik di wilayah Asia Pasifik dan berkantor pusat di Singapura. 

Mr. Allan menjelaskan bahwa Pendidikan di awal tahun Montessori Haus Asia lebih berkualitas, sederhana dan terjangkau untuk semua orangtua dengan Montessori Made Simple. Metode belajar yang diberikan dapat membuat orangtua lebih bersemangat lagi dan tertarik untuk belajar montessori, #MontessoriMadeSimple. Montessori Haus Asia memiliki serangkaian paket yang lengkap untuk para guru, orang tua, sekolah atau pengusaha yang tertarik untuk menerapkan Metodologi Montessori di sekolah mereka, atau mendirikan sekolah Montessori di kota lokal dan program pelatihan guru Montessori.

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia
Ms. Rossa founder PT. Montessori Haus Asia Indonesia
Montessori Haus Asia telah menjalin kemitraan dengan Indonesia di awal tahun yang populer karena memiliki ahli montessori yang terkenal adalah Miss Rosalynn yang mendirikan PT. Montessori Haus Asia pada tahun 2017. MHA Indonesia sedang dalam perjalanan untuk memenuhi abisius rencana ekspansi yang dipetakan oleh Miss Rosalynn. Dalam kurun waktu pendek 4 bulan, MHA telah mendirikan 3 pusat pelatihan dan memiliki banyak kemitraan di seluruh nusantara.

Visi & Misi Montessori Haus Asia untuk menyediakan layanan dengan cara terbaik
  1. Semangat untuk mengubah kehidupan melalui pendidikan berkualitas
  2. Kerja tim adalah kunci pertumbuhan
  3. Kerja keras adalah dasar kesuksesan
  4. Inovasi dan kepemilikan individu didorong dan dihargai komitmen terhadap penelitian dan perkembangan
  5. Kepuasan dan kesuksesan mitra sangat penting
💻Website: http://www.montessorihausasia.com
📱 Instagram: @MontessoriHausAsia

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia

Setelah mengunjungi Montessori Haus Asia di Jakarta kemarin sebenarnya ada niat untuk belajar lebih lagi tentang metodologi montessori ini untuk bekal parenting dirumah maupun untuk dijadikan peluang di bidang pendidikan. Karena harga pendidikannya juga cukup terjangkau, next time in sha allah jika diberi kesempatan bisa balik lagi untuk belajar disini. 😊
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

interlac
http://www.interlac-probiotics.com/

Stimulusnya sudah benar seperti metode montessori tapi percuma kalo kesehatan anak terganggu, benar gak bunda? karena 90% penyakit itu berasal dari usus. usus baik, pencernaan sehat maka penyerapan asupan gizi akan semakin mudah. jadi sebenarnya jika anak ingin cerdas cepat tanggap sehat kan dulu pencernaanya agar penyerapan nutrisi ke otak dapat terserap maksimal. nah, Interlac ini merupakan suplemen makanan yang mengandung bakteri lactobacillus reuteri protectis, Minyak bunga matahari, medium chain triglyceride oil, dan anti caking agent (silicon dioxide) yang sudah teruji klinis sangat efektif dan aman untuk bayi dan anak-anak.

granola
Sepulang dari MHA saya membawa oleh-oleh banyak sekali, untuk anak saya. Salah satunya granola cemilan sehat dari @healthy.food.partner. granola ini adalah macam-macam biji-bijian (kuaci, biji labu, irisan almond, kismis, kedele, dll) rasanya enak banget dan paling penting ini cemilan sehat.

ayam gepuk mpo oneng
Sebenarnya jam 12 siang tadi adalah jam makan siang tapi saya ingin membawa @ayamgepukmpooneng ini khusus buat anakku di rumah yang suka banget sama daging ayam. apalagi ayam gepuk mpo oneng ini berciri khas dari sambalnya yang pedess dan maknyuss banget, mantep deh!

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia
#gamemontessori

Ini adalah trial box @GameMontessori dari Montessori Haus Asia yang saya dapatkan. 3 Activities, Planting Green Beans, Life Cycle of Green Beans, Number Games. nah, trial box ini rencananya akan saya gunakan untuk pembelajaran Montessori bersama anak di rumah.
trial box montessori haus asia

Saya percaya setiap anak itu unik dengan kemampuannya sendiri tanpa ada 'prestasi paksaan' sebab saya juga pernah menjadi anak-anak dan ini adalah PR untuk kita sebagai orang tua. Melakukan Montessori di Rumah membuat saya merasa bahwa Montessori itu tidak ribet dan sangat menyenangkan. Montessori itu tidak mahal, atau memerlukan permainan dan peralatan yang banyak,
Montessori Made Simple.

                                                      Montessori for Everyone...


                                     JAKARTA MONTESSORI- MONTESSORI HAUS ASIA



Terimakasih kepada;
@GameMontessori @mombloggercommunity 
@montessorihausasia 
@interlacprobiotics
@kamoemontessori
@letthefunbegun
@toru.id
@joyandsmart_toys
@makkeik
@ayamgepukmpooneng
@healthy.food.partner

#gamemontessori #Healthyfoodpartner
#interlacprobiotics
#probiotics
#probiotik
#ayamgepukmpooneng
#ayamgepukbsd
#ayamgepukpamulang
#ayamgepuk
#Montessoriforeveryone
#MontessoriMadeSimple 
#BelajarBerbagiBerkarya 
#MomBloggerCommunity



sumber refrensi:
https://www.yenisovia.com/2018/03/berkenalan-dengan-montessori.html
http://kurniawijiastuti.com/2018/07/tips-memilih-preschool-montessori/


Tuesday, June 5, 2018

Sehari Menjadi Relawan di Sekolah Rusak


Pagi sekali saya menaiki KRL dari Bekasi menuju Bogor. Hari itu keadaan di dalam kereta tidak seperti biasanya lebih lowong karena bertepatan dengan longweekend, jadi saya lebih semangat dan pastinya kebagian tempat duduk. Beberapa hari sebelumnya saya mengajukan diri di sebuah undangan untuk ikut serta menjadi relawan di sekolah rusak. Setelah mengisi form, tidak lama saya menerima email untuk mempersiapkan diri. Barakallahu, pada kesempatan ini saya bisa sharing kepada pembaca, bagaimana sih rasanya ikut berkontribusi di sekolah rusak ini? Dan hasilnya ternyata luar bisa dari bayangan saya sebelumnya.

Dari stasiun saya menuju markas/kantor relawan YAPPIKA-Actionaid menggunakan ojol(ojek online) sampai disana teman-teman relawan lainnya sudah berkumpul. hari ini ada dua kelompok yang bertugas, kelompok Serang dan kelompok Bogor. Dari kelompok Bogor ada dua sekolah yang harus dikunjungi, yakni SD Srimurni dan SD Mutiara. Saya sendiri kebagian mengajar kelas 6 di SD Negeri Mutiara, ds.Cibebeur, kec. Leuiliang, kab. Bogor.

Sebelum keberangkatan ketua memberi pengarahan dan pembagian tugas


Perjalanan itu kita tempuh kurang lebih satu setengah jam dari kantor YAPPIKA dan Kopel atau dua jam dari stasiun Bogor. Saya bersama teman-teman lainnya mengendarai mobil pribadi untuk sampai di tujuan. Meskipun smakin lama semakin berliku-liku, dan semakin menyempit jalan terus dilalui. Segera kegelisahan itu terbayar oleh kegembiraan anak-anak yang antusias rebutan bersalaman dengan kami.




Ketika tiba di lokasi, saya tersentak melihat keadaan sekolah tersebut. Antara melihat realita dan semangat mereka rasanya sangat keterbalikan membuat saya terharu. Sekolah SD Mutiara kondisinya rusak parah dan tidak layak. Murid-murid takut untuk belajar disana, karena khawatir puing-puing jatuh mencelakaan mereka. Sehingga banyak orangtua yang memilih sekolah lain (bagi yang mampu) atau pilih tidak meneruskan sekolah anaknya (bagi yang kurang mampu) dan bertahan. jumlah seluruh muridnya dari kelas 1-6 tidak lebih dari seratus anak.

Kondisi sekolah SD Mutiara sangat memprihatinkan


Murid-murid terpaksa belajar di tenda yang hanya dibatasi sekat terpal perkelasnya


Saya memperkenalkan diri kepada mereka, mereka pun bergantian memperkenalkan diri. maju dengan malu-malu, menyebutkan nama, tempat tinggal dan hobi. beberapa kali saya tertawa melihat tingkah dan ekspresi anak-anak yang polos dan lucu. bahkan ada yang belum tau hobi, maka saya menjelaskan "apa itu hobi" dengan sedikit terjemahan bahasa sunda. di tengah-tengah kegiatan saya memberi anak-anak tugas menggambar "cita-cita" mereka, dan hasilnya menakjubkan. anak yang masih kecil ini sudah memiliki gambaran apa yang ingin ia raih di masa depan, meski keterbatasan sekolah tidak menyurutkan semangat yang masih begitu segar di wajah-wajahnya. saya berusaha membangun kedekatan kepada anak-anak, mereka senang di beri motivasi dan kata-kata pujian itu terlihat dari mimik wajahnya yang penuh tawa dan ekspresif.

Banyak pengalaman baru yang saya dapatkan disini, salah satunya mengenal beraneka ragam karakter anak-anak usia 8-9 tahun. Bukan penyesuaian yang gampang loh, terlebih saya sudah terbiasa mengajar dengan gaya saya yang lebih banyak mengajar anak usia SMP dan SMA. saya belajar berkomunikasi yang menyenangkan dengan mereka terutama belajar bahasa sunda, hehe. Untungnya saya masih darah sunda jadi sedikit nyambung.

Keadaan ini berbeda sekali dengan sekolah-sekolah di kota besar, seperti pembangunan dan fasilitas yang tidak merata. tidak hanya itu yang lebih memprihatinkan, tingkat perkawinan di usia sekolah masih tinggi di daerah ini. anatara usia SMP mereka banyak yang lebih memilih menikah. selain faktor lingkungan, pihak dari orangtua pun lebih mendukung anaknya menikah daripada sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

yang saya lihat dari mereka adalah secercah harapan bangsa. oleh karena itu, tidak hanya sekedar mengucapkan hari pendidikan di media sosial tetapi ingin ikut bekontribusi nyata untuk mereka. melalaui YAPPIKA-Actionaid saya bisa menjadi relawan satu hari di sekolah rusak. YAPPIKA adalah organisasi nirlaba yang telah bekerja selama 25 tahun untuk menyuarakan ketidakadilan dan kemiskinan serta mendesak pemerintah dalam hal pemenuhan hak pelayanan publik. Tahun 2016, YAPPIKA bergabung menjadi anggota Actionaid, sebuah organisasi nirlaba internasional yang memiliki visi dan misi yang sama yaitu mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan sosial di seluruh dunia. nama YAPIKKA kini menjadi YAPPIKA-ActoinaAid.














saya yakin bahwa semua anak indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi dan meraih cita-cita. karena semua anak terlahir cerdas dengan kemampuan uniknya masing-masing, selama itu bermanfaat untuk orang lain. semoga langkah kecil saya dan teman-teman lainnya mampu membangkitkan semangat mereka agar tetap bertahan dan tidak takut untuk bermimpi menjadi bersinar suatu saat nanti. jika 1,2, 10 orang saling membantu dan memotivasi apalagi jika seluruh masyarakat ikut berperan bergotong royong mendukung pendidikan yang lebih baik lagi, pasti dampaknya akan lebih besar, dan merata. setiap hari adalah hari pendidikan! selamat hari pendidikan :)

Dukungan ini dipersembahkan oleh;
Relawan YAPPIKA-Actionid
Situs Web; www.yapikka-actionaid.or.id
Media Sosial
IG; @yappikaactionaid
FB; Yapikka-ActionAid
#SekolahAman

Friday, May 18, 2018

Sekolah Tanpa Kekerasan dalam mendukung Sekolah Ramah Anak melalui pendekatan Disiplin Positif.


Ada banyak yang saya dapatkan ketika menghadiri acara Peluncuran Aliansi Penghapusan Kekerasan Terhadap Anak (PKTA) Indonesia Tanpa Kekerasan Terhadap Anak 2030, semua yang turut serta dalam mendukung kegiatan ini seperti Kementerian /lembaga terkait, Badan PBB, Komisi negara, Donor, Media, Sektor swasta, Sekolah tanpa kekerasan, Pemerhati anak, Forum anak, dan Anggota Aliansi PKTA memberikan banyak edukasi dan dampak positif salah satunya tentang edukasi Sekolah Tanpa Kekerasan dalam mendukung Sekolah Ramah Anak melalui pendekatan Disiplin Positif

Bayangan saya langsung tertuju pada sesorang yang saya kenal dekat. seseorang itu putus sekolah saat masih duduk dikelas X SMK entah alasan pastinya apa, anak itu enggan bercerita detail hanya terakhir saat-saat ia masuk sekolah ia mendapat hukuman ditampar oleh gurunya sampai pendengarannya terganggu karena bercanda di jam pelajaran, padahal anak itu bilang ia hanya mengambil pulpennya yang terjatuh di kolong meja temannya

Seketika ia berhenti sekolah mau tak mau ia ikut bekerja di usianya yang masih di bawah umur. setelah itu ia lebih lama menanggur karena lulusan SMP sangat sulit bersaing di dunia kerja. saat-saat itu adalah yang membuat hati saya miris, ketika saya setingkat lebih atas pendidikannya darinya, ketika dewasa saya malah menjadi guru SMP. dari kisah itu saya sebagai guru mengubah cara pandang saya tentang "Mendisiplinkan anak itu tidak harus dengan kekerasan" perinsip itu sebenarnya sudah lama saya terapkan saat pertama menjadi guru dan saat ini Sekolah Tanpa Kekerasan dalam mendukung Sekolah Ramah Anak melalui pendekatan Disiplin Positif sudah sangat digencarkan demi tujuan Indonesia tanpa kekerasan terhadap anak 2030, saya sangat mendukung dan antusias memberi paparannya kepada pembaca.

Belakangan pemberitaan kekerasan terhadap anak di Indonesia kembali mencapai momentumnya dengan persoalan seputar penerapan disiplin dalam bidang pendidikan formal yaitu sekolah. Kekerasan terhadap anak dalam tingkat dan kasus tertentu seolah diamini dan dimaklumi. 


KEKERASAN DALAM WUJUD HUKUMAN
Pertama, kita bahas tentang Anak mengalami kekerasan di sekolah. sebagian besar guru percaya hukuman sebagai metode pendisiplinan yang efektif (45% anak menyebutkan guru sebagai pelaku kekerasan; ICRW, 2015)

Saya yang pernah menjadi sesorang siswa sekolah dan juga sebagai guru SMP mengakaui bahwa masih banyak guru yang menerapkan kedisiplinan melalui kekerasan. maksud untuk mendisiplinkan anak namun sayangnya rasa (yang mereka anggap tegas) tidak ditanggapi nalar positif oleh anak didik.


MITOS : "Hukuman fisik cara yang paling baik dalam mendisiplinkan anak. Metode yang lain tidak bisa memberikan dampak sebaik itu"
FAKTA : Hasil penelitian malah menunjukan bahwa hukuman fisik berdampak negatif pada perkembangan anak. Sebaliknya hasil penelitian juga menunjukan bahwa pendekatan dengan disiplin positif (tanpa hukuman) mendorong berkembangnya kedisiplinan diri anak.

MITOS : "Hukuman mengajarkan ketaatan dengan rasa hormat"
FAKTA : Dengan hukuman anak hanya taat ketika ada yang mengawasi, padahal ketaatan pada peraturan dan etik harus didasarkan pada kesadaran.

MITOS : "Di ujung rotan ada emas"
FAKTA : Memang benar bahwa prinsip yang digunakan orang tua kita dulu untuk mendidik, namun hasil penelitian menunjukan bahwa tindakan kekerasan membawa dampak psikologis yang panjang hingga anak dewasa. hal ini menghasilkan budaya kekerasan yang berlangsung secara turun-temurun.

MITOS : "Hukuman adalah bentuk kasih sayang. anak yang kukasihi kuhajar dan kudidik"
FAKTA : Dari hasil penelitian menunjukan bahwa hukuman berdampak negatif bagi perkembangan anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini menunjukan bahwa hukuman bukanlah bentuk kasih sayang. Mendidik dan mengajar anak tidak harus dengan hukuman dan kekerasan.

Ubah cara pandang, tindakan dan praktek dimasyarakat yang menerima, menoleransi dan mengabaikan kekerasan menjadi praktek positif yang melindungi anak dari kekerasan


Kekerasan dalam lingkungan sekolah akan memberi dampak yang buruk bagi perkembangan belajarnya. antara lain

DAMPAK KEKERASAN ANAK;

1. DAMPAK AKUT TERHADAP KONDISI FISIK DAN PSIKOLOGIS ANAK (Depresi, gangguan tidur, penyakit kardiovaskular, jantung dan pembuluh darah) dan kemungkinan prilaku beresiko seperti menyakiti diri sendiri, penggunaan narkoba hingga prilaku seksual beresiko)

2. RENDAHNNYA PRESTASI PENDIDIKAN ANAK. Dapat berkontribusi pada putus sekolah dan konsenkuensi ekonomi jangka panjang.

3. Anak korban kekerasan berpotensi DUA KALI LIPAT MELAKUKAN KEKERASAN KETIKA MEREKA DEWASA hal ini berkontribusi pada siklus kekerasan antar generasi.

4. Studi di wilayah Asia Timur dan Asia Pasifik menyebutkan: PENANGANAN KEKERASAN ANAK MENGHABISKAN 3-4 PERSEN PDB TIAP NEGARA PER TAHUNNYA

Sebagai orangtua yang memegang penuh dalam kendali anak utamanya kita harus tahu dan paham tentang HAK ANAK. kekerasan di sekolah bukan berarti dari pengajar atau karyawan sekolah saja tetapi sering terjadi di interaksi sosial anak seperti BULLYING. bukan hanya guru/kepsek yang ikut serta membenahi pemarsalahan bullying ini tetapi peran para orangtua, alumni dan masyarakat sekitar harus bersatu padu mengubah tradisi bullying dengan menggantinya dengan SEKOLAH TANPA KEKERASAN atau SEKOLAH RAMAH ANAK.

Kita sebagai orangtua/guru harus mengormati harkat dan martabat anak, seperti membantu mereka mengembangkan prilaku, disiplinan diri, dan karakter yang baik. menekan tindakan bully bisa kita maksimalkan seperti melibatkan para alumni (partisipasi anak) secara aktif. sebagai orangtua kita harus menghormati kebutuhan perkembangan dan kualitas kehidupan anak dengan memberi motivasi dan memahami pandangan hidup anak. Terapkan kejujuran, kesetaraan, non-diskriminasi, dan keadilan di lingkungan sekolah maupun keluarga dengan mengajarkan tentang solidaritas dan toleransi.

DISIPLIN POSITIF adalah suatu pendekatan yang memberikan alternatif pengganti hukuman fisik, yaitu memastikan bahwa hukuman yang diterima anak bersifat logis sehingga anak belajar untuk tidak mengulangi prilaku yang tidak diinginkan. Pendekatan yang menanamkan disiplin bagi anak dengan mengajarkan penyelesaian masalah tidak dengan kekerasan

MENGAPA DISIPLIN POSITIF
  1. Melaluli disiplin positif, kekerasan pada anak berkurang.
  2. Berdampak positif pada pengembangan karakter anak seperti disiplin, social skill, bertanggung jawab 
  3. Berdampak positif bagi hasil belajar anak
  4. Berkurangnya prilaku sosial yang negatif seperti tawuran, melanggar hukum, konsumsi obat dan minuman terlarang 
  5. Guru dan orang tua memiliki cara yang lebih baik dalam mengajarkan kedisiplinan
salah satu contohnya, kita bisa mengganti Peraturan Sekolah menjadi Konsenkuensi dengan begitu anak tidak merasa terkekang oleh peraturan tetapi mengerti bahwa ia akan mendapatkan konsenkuensinya jika ia berlaku tidak disiplin, sehingga mudah dipahami anak secara logis bukan paksaan.Contohnya
Konsenkuensi logis. konsenkuensi logis mengajarkan anak bertanggung jawab atas setiap prilakunya kita bisa mengganti Peraturan Sekolah menjadi Konsenkuensi dengan begitu anak tidak merasa terkekang oleh peraturan tetapi mengerti bahwa ia akan mendapatkan konsenkuensinya jika ia berlaku tidak disiplin, sehingga mudah dipahami anak secara logis bukan paksaan. DENGAN DISIPLIN POSITIF ANAK AKAN, Belajar bertanggungjawab dalam mengelola tindakan mereka sendiri, tidak tergantung pada pihak otoritas (guru, orang tua, dll) untuk mengatur tindakan mereka.
  • Kesepakatan kelas sudah disusun bersama guru dan siswa
  • Guru-guru tidak lagi menggunakan tongkat/rotan dan mulai menggunakan kata-kata positif pada siswa



"Tujuaan utama kedisiplinan adalah agar anak memahami tingkah lakunya sendiri, berinisiatif dan bertanggung jawab atas apa yang mereka pilih, serta menghormati dirinya sendiri dan juga orang lain. dengan kata lain, disiplin menanamka proses pemikiran dan prilaku positif sepanjang hidup anak"

Jika, pendekatan hukuman dibangun atas ketidakpercayaan guru atau orang tua bahwa anak dapat mengembangkan prilakunya dan dapat bertanggungjawab akan tindakan yang dipilihnya. sementara,
disiplin dibangun di atas kepercayaan guru dan orang tua bahwa tidak ada anak yang nakal karena anak tidak terlahir dengan watak yang JAHAT.

Dorongan dan penguatan positif memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan citra diri positif. Dorongan berbeda dengan pujian atau reward. contohnya, daripada kita memajang kata "di larang merokok" lebih baik diganti "terimakasih karena kamu tidak merokok" atau "dilarang coret-coret ditembok, dilarang buang sampah sembarangan " lebih baik diganti dengan "terimakasih kamu telah ikut menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan"

Dorongan-> Kemandirian
Pujian & Reward -> Ketergantungan 

Jadi, parents hukuman fisik pada anak hanya akan melahirkan ketakutan dan gangguan mental, alih-alih disiplin. anak adalah bagian dari masa kini dan pemilik masa depan. maka kita harus melindungi mereka dan penuhi hak-haknya.

Semoga Bermanfaat!


_________________________________________________________________________________

Sumber:
Buku Disiplin Positif oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Berlian (bersama lindungi anak), Kabupaten Layak Anak, Deputi Perlindungan Anak