Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Tuesday, February 26, 2019

Apakah Kita Termasuk Orangtua yang Menerapkan Helicopter Parenting?


Seorang anak pulang dari sekolahnya dan menangis kepada ibunya, ia bercerita bahwa di kelas hanya ia yang mendapatkan 1 kertas lipat origami sedangkan semua temannya mendapatkan 3 dari hasil kertas lipat origaminya. Padahal di hari sebelumnya Bu guru sudah memerintahkan kepada semua murid untuk membawa 2 kertas origami dari rumah. Namun si anak ini lupa. Jadilah ibunya datang ke sekolah protes kepada sang guru karena merasa berlaku tidak adil.

Apakah Mama sering mengerjakan tugas sekolah anak lantaran ingin membiarkan anak istirahat atau takut ia salah dalam menjawab soal? Apakah hampir setiap malam Mama merapikan tas sekolah anak hanya untuk memastikan tidak ada perlengkapan sekolahnya yang tertinggal? Atau bahkan rutin menghubungi guru kelas untuk mengetahui bagaimana aktivitas belajar anak di sekolah?

Kira-kira kita bisa menilai gak sih yang di lakukan orangtua di cerita ke satu dan dua itu benar atau salah?
Atau kita termasuk orangtua yang melakukan kedua cerita diatas?!



Pada tanggal 23 Februari saya hadir dalam seminar parenting Hallomoms bersama dokter psikolog anak dari halodoc. Pembahasan parenting kali ini membahas tentang helicopter parenting. Diikuti oleh 40 moms yang dilaksanakan di brood en boter Kemang, diharapkan melalui gathering ini orang tua bisa menghindari sikap sikap negatif dari “Helicopter Parenting” ini dan mulai menerapkan metode metode positif untuk membangun karakter anak.

Apa sih Helicopter Parenting itu? Hmmm, kita termasuk gak ya? 🤔

Apa itu Helicopter Parenting?

Orangtua helikopter adalah orangtua yang sangat memperhatikan pengalaman dan masalah anak. Dinamai demikian, karena seperti helikopter, "mereka terbang di atas kepala" mengawasi setiap aspek kehidupan anak mereka secara konstan.

Ciri-ciri Helikopter Parenting

1. Terlalu cemas berelbihan pada setiap gerak-gerik anak
2. Ikut campur dalam setiap masalah anak terutama masalah kecil
3. Mengerjakan PR anak, termasuk urusan sekolah.


Beberapa hal yang dipaparkan oleh Rayi Tanjung Sari M.Psi, Psikolog sebagai dampak dari Helicopter Parenting :

  • Anak tidak percaya diri
  • Menghambat proses berkembang anak atau life skill tidak berkembang
  • Anak sulit mengambil keputusan
  • Bergantung pada orangtua
  • Anak dengan orangtua helikopter lebih berpotensi untuk tidak mampu menghadapi tantangan hidup di masa depan, terutama pada lingkungan sekolah.
  • Cenderung memiliki masalah kesehatan di masa dewasa.
  • Kurang mampu meregulasi emosiàcenderung mengalami depresi, kurang puas terhadap kehidupannya.
  • Berpotensi kurang memiliki inisiatif dan motivasi dari dalam diri utk menjadi berhasil/sukses.


Tidak berhenti sampai disini HaloMoms akan terus hadir untuk menjawab kebutuhan para mama. Mulai dari gathering, sharing dan empowering sesama mama.

***

Malam itu saya kesall sekali karena akhdan tidak mau belajar untuk mengerjakan PR nya. Masalahnya jika saya paksa ia semakin tidak ada minat mempelajari. Lupa lagi, nulisnya malas-malasan. Pernah waktu itu saya membentak-bentaknya karena lupa lagi dengan huruf, alhasil membuat semakin tidak berhasil, ia diam sangat diam dengan raut wajah takut saya omelin tapi tidak benar-benar fokus. Namun akhirnya saya sadar juga dan ingat bahwa belajar itu harus atas dasar keingintahuan kita, kesadaran kita, maka rasa tanggung jawab itu akan tumbuh dengan sendirinya pada diri anak. Ya, moto belajar itu harus menyenangkan bukan perintah. Maka seringnya saya melihat mood anak dulu.

Pernah waktu itu akhdan malas mengerjakan PR ia hanya menulis setengahnya. Saya sering bilang "bahwa PR itu tanggung jawabnya dan mamah tidak mau bantu tulis, kecuali kamu minta ajarin". Sejujurnya saya ingin akhdan mendapat hukuman dari gurunya karena ia tidak mengerjakan PR, maksud saya agar anak menerima konsekuensi akibatnya atas kesadarannya sendiri.

Pas jam sekolah tiba akhdan keliatan panik dan kebingungan bahwa PR yang ia kerjakan hanya setengah. "Bilang saja jujur sama gurunya kamu malas dan lebih memilih main waktu itu" . Selang beberapa jam kemudian akhdan cerita ia hanya mendapat teguran dari gurunya, hihi. Sebenarnya saya kurang puas tapi memang diakui di usia prasekolah ini anak-anak tidak boleh dikasih PR menurut peraturan yang berlaku, PR itu permintaan orangtuanya lebih parahnya banyak orangtua juga yang akhirnya mengerjakan PR anaknya. Semoga yang saya lakukan tadi bukan termasuk helikopter parenting.

Bunda, tak perlu malu jika anak melakukan kesalahan jika itu memang salahnya, atau jangan pula terlalu memojokan kesalahannya. Karena yang terpenting bukan menjadi terbaik untuk dipamerkan kepada orang lain. Tapi pelajaran sejatinya baik untuk dirinya sendiri.


Sunday, January 20, 2019

Jangan Larang Anak Main Hujan - hujanan


Belakangan ini hampir setiap hari hujan, dan saya suka hujan. Ini lebih dari sekedar Indomie rebus pake telur dan cabe rawit, atau we time di dalam rumah bersama keluarga sambil menceritakan sejarah zaman belanda di masa kecil. Tapi ini tentang main hujan-hujanan. 

Saya melihat dari atas jendela balkon, anak-anak tetangga saling samper untuk main hujan-hujanan termasuk anak saya sendiri. Ia langsung bergegas bawa saringan ikan. Kegiatan apa coba, Selain nyamper buat berjamaah sholat? Sesuatu yang bikin saya geli mengingatkan saya waktu kecil ahlinya main hujan-hujanan. 😂

Mungkin di lingkungan kita atau kita sendiri menerapkan untuk melarang anak bermain hujan-hujanan? Alasan paling umum adalah takut sakit.

Saya sendiri bukan orangtua yang melarang betul anak bermain hujan-hujanan. Bukan gak peduli sama kesehatan anak. Justru saya peduli dengan kesehatan fisik dan fisikisnya. Dan ingin saya bagi dengannya bahwa betapa bahagianya masa kecil itu, seperti main hujan-hujanan. Namun hujan-hujanan ada aturannya juga, misal disaat hujan yang tidak ada banyak petir, bukan hujan badai, hujan di siang hari bukan menjelang malam, jangan terlalu lama sampai lupa jam makan dan sudah makan sebelum main hujan-hujanan.

Pikiran saya selama ini tentang hujan penyebab sakit itu adalah sugesti orangtua belaka, yang akhirnya beneran sakit deh.

Sebuah pertanyaan yang sama dengan akhdan ketika saya kecil dulu saat
teman kami dilarang bermain hujan-hujanan karena takut sakit. Pikiran anak kecil, apakah hujan itu mengandung bahaya? Bukankah ibu selalu menceritakan bahwa hujan itu berkah? Bukankah di sekolah selalu di jelaskan bahwa hujan itu sumber kehidupan mahluk bumi? Tapi kenapa ya seakan-akan gawat sekali hujan turun. Bahkan diomeli.

Karena sejak dulu saya selalu menganggap hujan itu keberkahan maka setiap hujan saya selalu bersyukur dan cerita sama akhdan semua tumbuhan dan makhluk hidup senang.

"Kenapa hujan bikin sakit? Tapi tumbuh-tumbuhan senang sama air hujan? Kenapa tumbuhan gak mati?"

Lalu pertanyaan itu lanjut pada tahap lebih sulit,

"Mah, kenapa awan bisa jadi air hujan?"

Sebenarnya ini juga masih PR saya sebagai orangtua agar lebih mengenalkan kebesaran Tuhan tanpa mencela. "Hujan nanti kamu sakit" bukan kalimat seperti itu. Sebuah kajian dari Ust. Khalid basalamah yang menganjurkan untuk anak-anak supaya bermain hujan-hujanan.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا
“Dan Kami turunkan dari langit air yang suci.” (QS. Al Furqon: 48)

Termasuk air sungai, air salju, embun, dan air sumur kecuali jika air-air tersebut berubah karena begitu lama dibiarkan atau karena bercampur dengan benda yang suci sehingga air tersebut tidak disebut lagi air muthlaq. Begitu juga yang termasuk air muthlaq adalah air laut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanyakan mengenai air laut, beliau pun menjawab,

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Air laut tersebut thohur (suci lagi mensucikan), bahkan bangkainya pun halal.


Kalo ditanya bagaimana rasanya hujan-hujanan? Itu sangat menyenangkan sekali, bahkan saya masih ingat betapa sewaktu kecil main hujan-hujanan itu asyik. Jujur saya yang sudah emak-emak ini masih pengen hujan-hujanan, tapi tanpa dilihat banyak orang 😛

Dulu rumah orangtua saya terdapat halaman belakang rumah yang lumayan luas dan di belakangi tembok rumah tetangga jadi lebih leluasa main hujan-hujanan sambil berakting kaya di film India dan ini biasa kita lakukan masal dengan saudara kandung, haha 😂 itu usia ABG sampe kerja loh! Jadi kalo lihat orang dewasa main hujan-hujanan katanya masa kecil nya kurang bahagia itu salah banget justru kita paling bahagia yang gak pernah main hujan-hujanan yang kecilnya gak boleh main hujan-hujanank. kali 😝

Merasa amat bersyukur jika flashback ke masa dimana saya masih kanak-kanak, masa kecil saya termasuk masa anak-anak yang bahagia. Saya merasa tidak penuh tekanan, disaat anak-anak seusia saya dituntut harus rangking, orangtua saya menerima kemampuan saya tanpa menganggap saya bodoh. Mereka selalu memuji apa adanya saya tanpa sedikitpun mencela kekurangan saya, seperti membentak, melebel si bodoh, si nakal, dll.

Dari pengasuhan itu saya bisa melakukan hal yang ingin saya ketahui membuat saya menjadi lebih kreatif dan mandiri. Sudahlah, saya tidak mau terlalu membanggakan diri, hihi. Jangan terlalu percaya itu hanya secuil kesempurnaan dari sekian banyak kekurangan pengasuhan dari orangtua saya. sebab belum tentu yang baca ini punya masa kecil yang bahagia. Seperti mengizinkan anaknya bermain hujan-hujanan 😁


"Hujan itu berasal dari air yang suci, sungguh kebesaran Allah. Rasullullah hujan-hujanan dengan melepas sorbannya dan membiarkan air hujan itu mendarat di kepala dan wajahnya. Ayah, Bunda Jangan melarang anak bermain hujan-hujanan, air hujan suci tidak membuat sakit"



Tuesday, October 30, 2018

Wahai Orangtua, Jangan Pukul Anak mu!


Anak merupakan titipan amanah dari sang ilahi. Mendidik anakpun sebenarnya sudah ada ilmunya sejak zaman dulu, bahkan dari zaman Rassullulah. Bukan sekedar menyaksikan ia tumbuh besar saja.  Namun ternyata masih banyak orangtua yang salah mendidik tidak sesuai tuntunan Rasulullah atau malas tahu untuk sekedar belajar, dan mencari tahu ilmu parenting.

Kita tentu akan sependapat bahwa tingkah anak, apalagi yang usianya masih balita, memang terkadang bisa bikin naik pitam. Anak sudah dibilang satu kali, tetap saja ia mengulangi perbuatannya lagi. Lalu kadang juga ia tak menurut. Situasi seperti itu tak jarang membuat para ibu menjadi jengkel dan marah. Tak sedikit yang kemudian memukul anaknya agar ia bisa diam. Agar ia patuh. Tapi ternyata tak seperti itu lho Bunda.

Seorang anak tentu akan bertingkah seperti halnya anak-anak yang lain. Penuh dengan kepolosan dan tanpa beban dalam pikiran. Mereka asik dengan dunianya, walau terkadang hal-hal yang mereka melakukan merupakan hal yang tidak baik. Di sinilah peran orang tua begitu berpengaruh bagi tingkah laku anak untuk masa depannya.

Biasanya akibat salah dalam mendidik, seorang anak merasa tertekan dan tidak menyukai dunia yang sedang ia alami. Seperti halnya tingkah orang tua, terutama ibu yang memperlakukan keras kepadanya. Hal inilah yang membuat anak merasa tertekan dan bahkan membenci orang yang telah melahirkannya sendiri.

Baca juga SEKOLAH TANPA KEKERASAN DALAM MENDUKUNG SEKOLAH RAMAH ANAK MELALUI PENDEKATAN DISIPLIN POSITIF

Hal yang biasa terlihat dalam kehidupan kita ialah seorang ibu yang begitu mudahnya memukul anak, ketika anak melakukan kesalahan. Tentu saja, anak tersebut menangis dan tak mau dekat dengannya. Bahkan ironisnya, ketika sudah tahu anak tersebut menangis, sang ibu malah lebih menambah pukulannya dengan begitu keras, hingga anak tak mampu lagi menahan tangisnya. Ternyata, mungkin karena emosi sang ibu yang tak tertahankan karena melihat tingkah anaknya yang begitu hiperaktif, maka tak jarang pula ibu yang melaknat anaknya sendiri.

Perbuatan inilah yang sudah termasuk dalam kategori dosa besar. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak melaknat tidak akan menjadi pemberi kesaksian dan syafaat pada hari kiamat kelak.” (HR. Muslim).


Maka dari itu, sejengkel apa pun kita menghadapi anak, kita harus bisa mengontrol diri. Jangan biarkan emosi menguasai diri Anda. Anda tak mau kan, kalau-kalau anak Anda sendiri tak mau mengakui Anda sebagai ibu?

Nah, maka dari itu, mendidik anak ke arah yang baik itulah yang harus dilakukan, bukan berarti kita menerapkan sistem kekerasan pada anak. Boleh saja kita melakukannya, tapi kita harus tahu kadarnya. Jangan sampai, pukulan itu yang tadinya membuat anak untuk mengerti, malah membuat anak semakin melunjak, hingga tingkahnya tak terkendali.

Menurut saya memang kita sebaiknya tidak memukul anak saat usia anak kurang dari 10 tahun. Tapi ada pula yang berpendapat bahwa memukul anak itu diperbolehkan dalam situasi dan kondisi tertentu lho Bunda. Tujuannya untuk memberikan pendidikan pada anak.

Tapi memukul juga kadang diperbolehkan. Saat situasi yang bagaimana orang mesti memukul anak?

Hukum pukul hanyalah bagian kecil dari konsep dasar hukuman dalam lingkup ganjaran. Namun yang menjadi persepsi umum adalah bahwa hukuman adalah hukum pukul. Mereka lupa dengan bentuk hukuman lainnya. mereka telah mempersempit definisi yang sebenarnya sangat luas; dan memperluas apa yang sempit, yakni hukum pukul itu sendiri. Mereka menggeneralisir suatu bagian kecil; padahal dalam konsepnya, penggunaan bagian kecil itu diatur dengan syarat dan batasan tertentu; dengan tetap memperhatikan kondisi yang melingkupinya dan aturan yang mengaturnya.

Bila manfaat yang diharapkannya tidak bisa terjadi, maka hukuman ini pun hendaknya ditiadakan sebagai satu bentuk hukuman dan proses pendisiplinan dalam dunia pendidikan. Dalam bukunya Risaalatu Riyaadhatu Shibyaan, Syamsudin Al-Bani memaparkan cara yang harus dipenuhi ketika hendak memberikan hukum pada anak, yaitu memukul anak kecil :

📝Pertama, Pukulan diberikan dengan jeda; yakni tidak dilakukan secara terus menerus.
📝Kedua, Ada fase antara satu pukulan dengan pukulan lain untuk meringankan rasa sakit.
📝Ketiga, Jangan memukul lengan agar tidak menambah rasa sakit.
📝Keempat, Jangan memukul ketika pendidik sedang marah sebagaimana ketika Nabi ﷺ melarang seorang hakim mengadili ketika ia sedang marah. Larangan ini pun berlaku untuk pendidik anak.

Baca juga 7 CIRI-CIRI ORANGTUA YANG SALAH MENDIDIK ANAK

Umar bin Abdul Aziz pernah memerintahkan asistennya untuk memukul seseorang, ketika perintah tersebut akan dilakukan, Umar bin Abdul Aziz malah memerintahkan untuk menghentikan dan membuat orang-orang heran. Beliau berkata, “Aku sedang marah dan aku tidak suka memukul ketika sedang marah.”

Pukulan pun harus dihentikan di kala anak merasa ketakutan. Hal ini menandakan bahwa hukum yang ada telah bekerja dampaknya hingga tidak diperlukan lagi. Jangan memukul sebelum anak berumur sepuluh tahun. Sedang dalam hadits riwayat Tirmidzi dinyatakan berumur tiga belas tahun. Ismail bin Said berkata, Ahmad ditanya tentang masalah memukul anak dalam urusan shalat. Ia berkata, ‘jika sudah baligh –yakni berusia sekitar sepuluh tahun’.

Atsram  mengungkapkan, ‘anak dihukum sesuai kesalahannya dan jika pukulan tersebut memang diperlukan. Anak kecil yang belum berakal jangan dipukul sampai ia berumur tiga belas tahun
Diriwayatkan dari Anas bahwa nabi ﷺ bersabda,

“perintahkan anak kalian shalat di kala berusia tujuh tahun dan pukullah –bila tidak melakukannya- di kala mereka berusia tiga belas tahun” (HR. Tirmidzi).

“Jika seorang dari kalian memukul pelayan, lalu ia menyebut nama Allah, maka angkat tanganmu! –yakni hentikan” (HR. Tirmidzi)

Demikianlah adab dan ketentuan memukul anak dalam islam..


Semoga bermanfaat!





Refrensi, momonganak.org

7 Ciri-Ciri Orangtua yang Salah Mendidik Anak

Salah Mendidik Anak

Apakah kita termasuk orangtua yang salah mendidik anak?
Coba kita simak 7 Ciri-Ciri Orangtua yang Salah Mendidik Anak berikut ini, semoga bisa menjadi bahan introspeksi karena sejatinya anak adalah titipan Allah yang harus dijaga :

1. Sering mengeluarkan kata-kata sumpah serapah, makian, dan kutukan pada anak

“Anak pelit! Bodoh! Tak tahu diuntung!”

Pernahkah kita mengucap kata makian pada anak kita?
Astaghfirullah, kata yang diucap orangtua bisa menjadi doa untuk buah hatinya, apalagi hardikan bisa merusak sel otak anak kita, jangan pernah melakukan hal ini lagi ya, karena sama sekali bukan contoh yang baik untuk anak. Suatu saat mereka akan meniru dan gantian menghujani kita dengan sumpah serapah.


2. Membanding-bandingkan anak, baik dengan saudara kandungnya sendiri maupun dengan anak lain

“Tuh adikmu lebih pintar! Kamu kok gini aja gak bisa sih?”

Mungkin maksudnya ingin menyemangati, tapi percayalah membanding-bandingkan anak dengan orang lain sama sekali bukan cara yang tepat. Justru rasa percaya diri anak atau kepercayaan anak pada diri kita akan menurun jika sering dibanding-bandingkan.

Baca juga WAHAI ORANGTUA, JANGAN PUKUL ANAK MU!


3. Menasihati anak atau memarahinya di depan orang lain

Menasihati anak di depan orang lain bisa membuatnya malu karena tampak bodoh, apalagi kalau sampai orangtua memarahi anak di depan umum. Anak akan merasa kehilangan harga diri, dan kemungkinan orang lain membully dirinya bisa lebih besar. “Ibunya saja memarahi dia, berarti kita pun boleh memarahi dia…” Itulah sinyal yang ditangkap oleh sekitar.


4. 'Menyetir' anak agar menjadi seperti yang orangtua inginkan

Anak diikutsertakan les bahasa Inggris, les biola, les menyanyi, les berhitung, les mengaji, astaghfirullah… kalau anak memang senang dan mengerti mengapa ia perlu mengikuti les, rasanya tidak ada salahnya, apalagi kalau ia menikmati semua les tersebut. Tapi kalau anak justru merasa stres dan bahkan depresi, tolong orangtua hentikan 'menyetir' anak mengikuti obsesi orangtua.


5. Selalu meminta anak memperoleh nilai terbaik dan tidak mentolerir kegagalan

Orangtua yang bijak akan memberi ruang untuk anak melakukan kesalahan dan membiarkan mereka belajar dari kegagalan yang pernah dialaminya, karena menyadari pentingnya kegagalan untuk mendidik anak lebih kuat dan bersabar. Akan tetapi orangtua yang salah pola didiknya akan menerapkan cara perfeksionis di mana anak tidak boleh gagal sekalipun.


6. Jarang berinteraksi atau mengobrol bebas dengan anak

Hanya sekadar memakaikan anak baju, memandikan, menyuapi, dan meninabobokan tidaklah dapat dikatakan telah berinteraksi dengan anak. Apakah kita sudah tahu kegiatan kesukaan anak? Pelajaran apa yang mereka anggap sulit? Siapa teman terdekat mereka? Siapa guru yang mereka sukai? Apa yang terjadi hari ini di sekolah mereka?
Kita akan mengetahui banyak hal tentang anak-anak ketika mengobrol bebas dan lepas dengan mereka.


7. Ogah meng-upgrade diri dengan ilmu parenting terkini

Orangtua yang tak mau tahu dengan ilmu parenting terkini berarti tak mengerti tingginya kedudukan ilmu dalam Islam. Banyak yang perlu dipelajari karena hubungan orangtua dengan anak bisa menjadi hubungan yang sangat rumit.





Sumber:
Sharing oleh Ust. Miftahudin
pembimbing grup WA Online AIDA, AISAH, AKAT, BARIS, KARIMAH, KIPRAH, KKS, KIBAR, KILAT-Qu, KISAH, KJI Annisa, KUPAS, SUKMA.

🗒️Program kami lainnya ;
۝AIDA (Akademi Ibu Idaman)
۝AISAH (Akademi Istri Shalihah)
۝AKAT (Akademi Ayah Teladan)
۝BARIS (Bahasa Arab Praktis)
۝IKBI (Info Kajian & Bisnis Islami)
۝KARIMAH (Komunitas Rindu Menikah)
۝KASABA (Komunitas Saling Berbagi)
۝KIBAR (Kuliah Singkat Bahasa Arab)
۝KILAT-Qu (Kuliah Singkat Tahsin Al-Qur'an)
۝KIPRAH (Kuliah Pra Nikah Online)
۝KJI Annisa (Kontak Jodoh Islami Annisa)
۝KKS (Kuliah Keluarga Sakinah)
۝KUPAS (Kuliah Parenting Spesial)
۝HASTA-Qu (Hafalan Satu Hari Satu Ayat Al-Qur'an)
۝SAHIDA (Sahabat Hijrah & Dakwah)
۝SUKMA (Silaturrahim, Ukhuwah & Kajian Muslimah

♻️Info: 085292004056 (WA)


🕌 Penyelenggara ;
Tim Da'i Annisa

Thursday, October 18, 2018

TEGAKKAN 7 PILAR PENGASUHAN


WINTER IS COMING?

Elly Risman & Miftahul Hidayah

Pekan lalu, Presiden kita menggunakan metafor “Game of Thrones (GOT)” dalam pidatonya pada IMF-World Bank Annual Meeting 2018. Isi pidato itu menuai puja-puji sekaligus kontroversi.

Saya, tidak ingin masuk dalam pusaran itu.

Karena bagi saya penggunaan metafor itu saja sudah menunjukkan siapapun yang terlibat dalam tertuangnya text pidato itu, benar-benar tidak paham bahwa GOT adalah ancaman bagi anak bangsa.

Mengapa? Karena dalam film ini tidak hanya mengandung kekerasan dan kata-kata kotor, adegan merokok dan ngobat, tapi juga pornografi (adegan seksual termasuk incest), bahkan LGBT ada didalamnya!

Tidak percaya? Klik link ini https://www.imdb.com/title/tt0944947/parentalguide?ref_=tt_stry_pg

Apa hendak dikata, semua sudah terjadi di kancah international pula!!
Bagaimana dengan orangtua Indonesia?

Saya ingin mengetahui reaksi orang tua Indonesia minimal 16 ribu orang yang menjadi followers instagram kami. Dibantu Miftahul Hidayah (Pipi) yang menangani social media YKBH, kami lakukan survei kepada 16 ribu followers instagram tersebut.

Hasilnya, sebagian besar menyayangkan mengapa GOT diviralkan orang paling berpengaruh di negeri ini. Mereka umumnya khawatir anak dan remaja mereka mencari tau karena penasaran, apalagi pihak TV yang menyiarkan film itu membuat meme dengan foto presiden untuk iklan season baru. Mereka menyesalkan mengapa pemerintah tidak membuat metafor yang lebih bijak dari itu.
Namun, sebagian lagi menunjukkan ortu tidak tau apa ancaman GOT bahkan mengaku bangga sekali dengan metafor itu. Di tengah kekhawatiran dan ketidaktahuan orangtua, ancaman pengasuhan anak mereka: Narkoba, pornografi, kecanduan games dan LGBT di era digital ini tidak mengenal status ekonomi maupun domisili. Selagi anak punya gadget dan mata, semua memiliki ancaman yang sama.
Akhir akhir ini, gelombang gerakan LGBT begitu masif sudah masuk ke kalangan anak-remaja maupun profesional.

Era digital mempercepat guliran gerakan itu hingga salah satu Pemkot mengaku kecolongan.
http://www.pikiran-rakyat.com/bandung-raya/2018/10/12/populasi-lgbt-capai-ratusan-pemkot-cimahi-akui-kecolongan-431510

Sedangkan di kalangan profesional, kita lihat sendiri atas nama kinerja, kebhinekaan dan HAM, perusahaan-perusahaan besar menempatkan aktivis LGBT di posisi strategis. Mereka mereka ini  mendorong siapa saja untuk ‘coming out’ dan merasa bangga dengan pilihan orientasi seksualnya. Toh diri mereka ada di posisi kerja yang bergengsi! Sudah, tidak perlu takut lagi...

https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/18/10/10/pge6e6384-grup-gay-asal-karawang-beranggotakan-6000-orang  

Http://www.pikiran-rakyat.com/tags/lgbt 

Jadi saudaraku, para orangtua... Bangunlah, siap dan siaga sebagai orangtua!
Sadarlah! Sungguh kita bukan akan menghadapi bencana besar tetapi kita SUDAH DALAM BENCANA!
Winter is coming?
Winter kita adalah bencana yang paling besar itu, karena kita tidak sadar ada bencana!

Ayah Bunda, insyaAllah bersama kita sangat bisa melawan bencana itu. Allah selalu berikan solusi bersamaan dengan tantangannya...

Jadi marilah kita TEGAKKAN 7 PILAR PENGASUHAN


Pilar 1 : Sadarilah bahwa menjadi orang tua itu amanah, SIAP-SIAGA dan berilmulah.

Bencana pengasuhan bukan hanya mengancam orang tua yang anaknya sudah remaja, tetapi juga Anda yang anaknya masih belia. Anak kita tidak pernah memilih siapa orangtuanya. Jangan sampai mereka menuntut di hari akhir terkena bencana karena kita sebagai orangtuanya lalai dalam mengasuh mereka. Kita harus mengasuh dengan kesadaran dan ilmu, sebelum masalah MEMAKSA kita untuk mencarinya.

Ingatlah, ILMU SEBELUM AMAL.

Jadi bagaimana kita bisa beramal (mengasuh) tanpa berilmu? Yang berilmu saja babak belur menerapkannya.

Berikut ini  beberapa contoh beratnya tantangan pengasuhan kita di era digital ini:
1⃣ Akibat kecanduan internet 2 remaja kita menjadi pasien rumah sakit jiwa!
https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4590

2⃣ Hasil penelitian Yayasan Kita dan Buah Hati yang didanai oleh Kementerian PPPA menunjukkan dampak pornografi pada anak yang kecanduan TERBUKTI mengakibatkan volume otak mereka MENYUSUT di bagian yang membedakannya dengan binatang!
http://bit.ly/TwitHasilRisetOtak

3⃣ Beberapa bulan yang lalu : WHO menyatakan kecanduan games sebagai gangguan mental!
https://sains.kompas.com/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental

Kalau melihat ciri-ciri dari kecanduan yang disebutkan WHO (ada dalam kumpulan tweet saya di atas), sudah berapa banyak anak anak kita yang sudah kecanduan?

Sehingga, meskipun pak Presiden mengajak atau menganjurkan anak-anak kita untuk membuka diri terhadap perubahan teknologi dan menciptakan penghasilan ratusan juta perbulan dari games, kita punya sikap yang jelas karena kita berilmu!

https://economy.okezone.com/read/2018/08/26/320/1941569/diskusi-dengan-pemain-mobile-legends-jokowi-ini-profesi-baru-dengan-penghasilan-ratusan-juta

Masalahnya anak-anak mungkin sudah kecanduan dengan games yang disebutkan bapak Presiden dan bila yang dimaksudkan bapak Presiden adalah menjadi atlet eSport, itu merupakan sesuatu yang berbeda.

https://medium.com/@muhamadnurawaludin/kecanduan-games-vs-esports-4edb9fc85d97?fbclid=IwAR31oA9NzMIvj9WVV0mD74-wQZ2IoPHEeEwfTc2MxZGu6i_-in7GzMX4t5k

Bayangkanlah saudaraku, kalau kita tidak siap siaga dan tak berilmu menjadi orangtua yang mengasuh anak di era digital!

Pilar 2 : Ayah, hadirlah untuk memenuhi pundi-pundi jiwa anak kita.

Bertahun-tahun yang lalu saya dan kawan-kawan saya di YKBH, berdasarkan riset sederhana yang kami lakukan, sudah meneriakkan bahwa INDONESIA ini a FATHERLESS COUNTRY.

Ayah ada secara fisik, nampak pagi, nampak sore, namun ayah tidak menyapa anaknya secara emosi. Ayah tidak menyapa anaknya secara spiritual. Secapek apapun ayah, se-tidak bisanya ayah ngomong, ayah HARUS. KARENA ALLAH. Peran ayah banyak dan tak tergantikan!

Berdasarkan penelitian dilakukan intensif di luar negeri, hadirnya ayah dalam pengasuhan akan menghasilkan anak yang memiliki kecerdasan emosi lebih bagus, potensinya lebih optimal, anak-anak tumbuh lebih simpatik, hubungan sosialnya lebih baik, percaya diri tinggi, dan secara akademis dan finansial lebih sukses. Bayangkan!

Dan.. penelitian kami menunjukkan bahwa bila ayah hadir dalam pengasuhan lebih besar, kemungkinan anaknya tidak adiksi pornografi!

Jadi ayah, pulanglah ke rumah... Ayah bukan hanya pencari nafkah... ayah adalah ayah, yah..
Jika ibu single parent, hadirkan ayah pengganti. Rasulullah itu 'nggak punya ayah' tapi ada kakeknya dan pamannya. Bismillah, Semangat!!

Pilar 3 : Rumuskan dan sepakatilah Tujuan Pengasuhan ayah dan bunda!

Bermain bola saja ada gawang yang dituju, bagaimana mungkin mengasuh anak tidak ada tujuan?
Jadi duduk dan rumuskanlah serta sepakati apa yang ingin ayah bunda capai dalam mengasuh anak anak ke depan. Jangan terlalu fokus pada akademik semata!
Faktanya, terdapat hubungan yang signifikan antara stres akademik dengan ketergantungan dan kecanduan internet pada remaja SMA.

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=526497&val=10778&title=Hubungan%20Stres%20Akademik%20Dengan%20Kecanduan%20Internet%20Pada%20Remaja%20SMA%20di%20Kecamatan%20Andir%20Kota%20Bandung 

Selain itu, bisa dipelajari juga hasil penelitian kami diatas, bagaimana hubungannya kecerdasan dan kecanduan pornografi.

Pilar 4 : Banyaklah berdialog dengan Benar, Baik, dan Menyenangkan. ☘

Berdialoglah dengan BENAR sebagaimana Allah mengajarkan dalam alquran dan perilaku nabiNya, dengan BAIK sebagaimana cara otak bekerja, dan dengan cara yang menyenangkan perasaan.

Sebagai orang tua, kita ini secara tidak sengaja sering melakukan kekeliruan dalam bicara yang membuat anak kita sumpek dan lelah jiwanya, sehingga menjadikan games, pornografi dan narkoba jadi pelariannya.

Pilar 5 :  Orang tua penanggung jawab utama penanaman nilai agama! ☘

Ikat jiwa anak kita dalam ketaatan pada pemilikNya.
Bukankah tujuan utama pengasuhan adalah mejadikan anak kita penyembah HANYA ALLAHnya saja?

Anak kita adalah salah satu tanggung jawab utama yang Allah pertanyakan di yaumul hisab sebelum peran kita sebagai anak dan berbagai peran kita dalam keluarga dan anggota masyarakat?

Maka, sebelum kita memilihkan tempat pendidikan terbaik, pondasi dasar dan pemeliharaan ketaatan serta akhlak yang baik tetaplah hak dan kewajiban kita.

Dari pengelaman praktek dan juga dari seminar-seminar saya, saya menemukan mengapa anak mudah sekali melakukan hal-hal yang tidak patut dan salah besar seperti kecanduan games, pornografi, narkoba bahkan seks bebas, adalah karena pondasi agama dari rumah hampa!

Punya gadget canggih, game tersedia, jaringan wifi di rumah, TV berlangganan, tapi anak tidak pernah (jangankan diajarkan) diperkenalkan saja tidak tentang keharusan sebagai muslim/ah untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluannya.

Penelitian yang kami lakukan sungguh menjadi bukti kebenaran firman Allah, bahwa: Kalau pandangan mata tidak ditahan, otak rusak di bagian fungsi mulianya yang membedakan manusia dengan binatang, maka kemaluan tidak bisa dikendalikan!

Maha benar Allah dengan segala FirmanNya.

Pilar 6: Persiapkan anak kita menghadapi masa baligh dengan pemahaman yang utuh. ☘

Bukan hanya sekedar cara bersuci dan ciri-ciri mimpi basah dan menstruasi. Jauh sebelum itu, biasakan anak memiliki kesempatan dan kemampuan untuk BMM (berpikir, memilih, dan mengambil keputusan) atas nama dirinya. Karena setelah baligh ia harus mampu mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.

Pilar 7 : Ajarkan anak untuk bijak berteknologi.

Anak kita hidup di hutan digital, yang mungkin kita sendiri juga tidak mengenal betul ada apa saja di dalamnya, dengan perkembangan yang luar biasa cepatnya. Jika kita tidak mendidiknya bijak berteknologi, bagaimana jika ia ‘tersesat’, bertemu hal-hal sangat buruk yang ada di internet dan tidak tau cara menghindarinya?

Maka, milikilah pertimbangan yang matang sebelum memberikan gadget dan internet pada anak.
✅Kapan ia diberi gadget?
✅Apa alasannya?
✅Sudahkah menjelaskan apa fungsi utamanya?
✅Apa manfaat dan resiko penggunaan gadget dan internet?
✅Keterampilan dan pengetahuan apa saja yang perlu ia miliki sebelum menjadi pengguna aktif gadget?
✅Apa saja yang boleh dan tidak boleh terkait penggunaan gadgetnya?
✅Berapa lama durasinya?
✅Apa konsekuensi yang disepakati jika terjadi pelanggaran aturan?

Ayah Bunda, mengasuhlah karena Allah…
Balutlah semua ikhtiar kita dengan doa!

Allah melarang kita meninggalkan dzuriyyatan dhiafan (QS Annisa ayat 9). Keturunan yang lemah, yang kita khawatirkan mereka tidak sanggup menanggung beban dan ancaman zaman. Tegakkan seluruh pilar pengasuhan. Jangan terus berputar dengan persoalan hari-hari. Karena anak masih kecil lalu merasa aman terhadap ancaman, karena belum menikah lalu nanti saja belajar berlelah-lelah. Sebaliknya, Allah mencintai dzurriyatan thoyyibatan (keturunan yang berkualitas). Yang digambarkan Allah SWT laksana sebuah pohon yang baik (syajarotun toyyibah). Yakni, akarnya menghujam ke perut bumi (akidah yang kokoh), batang dahannya menjulang ke langit (ibadah yang benar) dan berbuah di setiap musim (akhlak yang karimah).

InsyaAllah, kita bisa!

Wallahua'lam bi shawab

#sharingparentin #parentingislami #ellyrisman #parenting #eradigital #pornografi #mobilelegend

________________________________________________________________________________



Tulisan ini dikutip dari WhatsApp Group Parenting dan Keluarga 1

Monday, August 6, 2018

Pentingnya Kesehatan Psikis Anak untuk Pembentukan Karakter dan Moral

Kesehatan Psikis Anak

Melahirkan anak pertama di usia 20 tahun, merupakan tantangan tersendiri bagi mamah newbie seperti saya. Tidak mudah menjadi seorang ibu, apalagi di usia muda. Selain kesiapan mental ada banyak ilmu yang harus dipelajari untuk ibu pemula, karena tahap selanjutnya setelah menjabat sebagai istri, adalah menjadi seorang ibu. Ibu yang sukses menjalankan perannya, bukan hanya sekedar status karena telah melahirkan anak. Kenapa saya mengatakan demikian? karena tidak jarang saya melihat kejadian yang tidak menyenangkan antara hubungan orang tua dan anak. Ya, memang pengalaman parenting saya masih dangkal namun justru dari situ saya banyak mengamati pola asuh dilingkungan sekitar yang menjadi telaah untuk saya. dan yang paling sering saya amati dari pola asuh masyarakat adalah,

1. Orang tua yang pemarah: Ketegasan masih banyak disalah artikan, seperti kekerasan dalam bentuk hukuman. Jika ini sering terjadi maka akan mempengaruhi psikisnya. Anak dapat nilai jelek, orang tua marah dan mengeluarkan kata-kata kasar 'bodoh, pemalas', Anak melakukan hal yang tidak disengaja malah yang keluar dari mulut orangtua adalah ancaman "kalo kamu mecahin piring lagi mamah kurung jewer". Apa-apa cacian, tidak sesuai dengan harapan malah dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Lalu bagaimana anak bisa belajar tentang sabar jika orang tuanya tidak mau sabar mengajarinya belajar, bagaimana anak mau belajar jujur jika jujur saja ia mendapat makian dan akhirnya ketika besar ia menjadi pandai berbohong, lalu bagaimana anak mau belajar menghargai orang lain jika dirinya saja tidak dihargai oleh orangtuanya?

Baca juga Sekolah Tanpa Kekerasan Dalam Mendukung Sekolah Ramah Anak Melalui Pendekatan Disiplin Positif

2. Orang tua yang terlalu cuek. Anak berkehendak semaunya.
`
3. Tanpa sadar memanjakan anak berlebihan, lahirlah keturunan yang lemah mentalnya.

Pernahkah kalian melihat di berita tentang anak yang durhaka? kekerasan pada anak? Anak yang membully temannya atau anak korban bully? Anak remaja yang masuk penjara karena berulah? dan masalah lainnya tentang anak bangsa.

Lantas siapakah yang seharusnya bertanggung jawab?

Kebiasaan ini terus berulang terjadi turun menurun seperti tradisi. dari didikan yang salah turunlah pada generasi berikutnya, dan begitu seterusnya. Disinilah peran orang tua yang seharusnya menanamkan akhlak yang baik, dengan cara yang baik (panutan). berawal dari keluarga baru kemudian didukung oleh lingkungan sekolah, teman dan masyarakat.
Semua orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh baik secara fisik maupun psikis/mental. namun masih kurangnya kesadaran masyarakat yang hanya terfokus pada pertumbuhan secara fisik saja dan cendrung melewatkan prilaku dan psikis anak, padahal pembentukan perilaku dan psikis anak adalah pondasi bagi anak untuk tumbuh di lingkungan sosialnya kelak.

Baca juga Anak Tumbuh Menjadi Nakal? Intropeksi cara mendidiknya!

Ketika hati sudah memantapkan belajar menjadi orang tua yang baik, in sha Allah selalu ada jalannya. seperti kesempatan saya menghadiri talkshow parenting yang bertema "TIPS MENJAGA PSIKIS ANAK SEJAK DINI". Pada tanggal 31 Juli 2018, saya dari Bekasi menaiki KRL menuju lokasi tepatnya di Paradigma Cafe. Blogger gathering yang diadakan oleh MBC (Moms Blogger Community) bersama HALODOC membuat saya sangat antusias untuk menyimaknya. terlebih narasumbernya adalah seorang yang ahli di bidangnya, yakni Psikiater spesialis anak dan remaja dari RSCM.

oleh Narasumber Dr. Tjhin Wiguna Sp.KJ, adalah psikiater spesialis anak dan remaja di RSCM 
Dalam rangka memperingati hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli, Halodoc mengadakan talkshow ini agar orang tua bisa mendidik anaknya dengan cara yang lebih baik dan sehat menurut anjuran dokter. Dr. Tjhin Wiguna Sp.KJ, menyampaikan bahwa peran orang tua sangatlah penting dalam membangun perkembangan karakter dan moral anak. anak biasanya mencari panutan dalam membentuk bahasa, perilaku, sikap. karena orang tua merupakan orang pertama yang menjadi panutannya.

Selain peserta Mom Blogger Community (MBC) ada juga tamu yang diundang dari Halodoc. Mereka sangat serius namun santai saat dokter sedang memberi pengertian bagaimana meng'ASAH, meng'ASUH dan mengASIH seorang anak tanpa membuat mentalnya terluka. saya sendiri lebih asyik menikmati mendengarkan beberapa orang tua yang sharing tentang pola asuh mereka. cara penyampai sang dokter sangat mudah saya pahami, tidak bosan, dan selalu berbobot di setiap kalimatnya.

Di dalam talkshow Dr. Wiguna memberi kesempatan kepada para orangtua yang ingin bertanya seputar pola asuh. di tengah materi juga dokter juga memberikan contoh parenting dengan menjadikan peserta sebagai modelnya. dan membenarkan mana prilaku orang tua yang salah atau masih keliru dan mana sikap yang benar menghadapi bermacam-macam karakter anak.

Pemenang Media Social Halodoc 


Alhamdullilah, sepulang dari talkshow ada beberapa ilmu parenting yang membuat saya lebih berhati-hati dan sabar untuk mendidik anak-anak saya kelak. jadi, selain fisik permeliharaan psikis atau psikologi anak sangatlah perlu. Noted, PR lagi untuk saya agar lebih memperhatikan psikis anak dengan cara yang baik dan sehat! dari sini saya mendapat ilmu lagi yang ingin saya share kepada pembaca. 
Mengajari anak untuk menikmati proses seperti tidak harus selalu melindunginya, membelanya, atau memanjakannya. kadang di dalam kehidupan sosial banyak hal yang tidak menyenangkan ini pasti dialami oleh setiap individu. misalnya, anak akan mengenal beraneka macam karaker temannya dan belajar mengatasinya atau berdamai dengan keadaan. jangan apa-apa langsung difasilitasi biarkan anak menikmati sebuah proses.
Jika anak melakukan kesalahan STOP bunda langsung mencacinya atau malah membandingkan dengan orang lain yang dianggap lebih baik. jika ini terjadi pada remaja orang tua bisa diskusi dengan anak dan cari penyebanya, jika anak kita masih kecil biasakanlah untuk mengkritik perilaku yang 'salah' bukan orangnya. misal kalimat "anak bodoh, malas gak mau belajar!" bisa diganti dengan kalimat yang lebih positive dan mengandung pemahaman sebab-akibat "kalo kita malas belajar nanti gak pinter loh". (malas=perilaku) bukan orangnya (kata: anak bodoh)
Tanamkan semua pemikiran positive, seperti tidak berburuk sangka pada orang lain, memotivasi, memuji tidak berlebihan, serta menghargai setiap usahanya. insha Allah akan tertanam pada anak rasa percaya diri namun tidak sombong. dalam kejadian banyak saya amati beberapa anak remaja maupun kanak-kanak masih terjadi krisis percaya diri pada fisiknya, dan keadannya. motivasi dari orangtua amat penting untuk menumbuhkan rasa cinta pada dirinya dengan kerendahan hati.
Jangan terlalu ketat membatasi anak untuk bereksplorasi dengan dunianya. Protec boleh saja karena memang anak harus dalam pengawasan orangtua, tetapi jangan juga dibiarkan begitu saja. diawasi seperti di tengok setiap 10 menit dari pantauan kita. karena dengan bermain sang anak akan belajar banyak hal, terutama dalam perkembangan motoriknya. jika anak suka main hujan-hujanan pilih waktu yang tepat misal tidak ada angin kencang atau petir, dan dalam keadaan perut kenyang, juga tidak terlalu lama. atau suka main tanah? harus selalu mencuci tangan pakai sabun anti kuman sering-sering dan minum obat cacing. 
Sama seperti membiarkan anak bermain, dan menikmati proses. biarkan anak bermain dengan teman sebayanya, biarkan ia menikmati proses suka dukanya berteman. terkadang anak akan belajar menghadapi temannya yang pelit, suka merebut mainannya ada pula teman yang peduli, yang kompak. itu semua merupakan bagian dari pembelajaran untuk kehidupan sosialnya kelak.
Maksudnya adalah pendekatan disiplin positif dengan mengajari anak sebab-akibat yang ia buat jika lalai bukan hukuman, insha allah anak mampu bersikap konsisten. namun, seperti yang saya bilang di atas masih banyak orang tua yang keliru yang masih menerapkan kedisiplinan itu identik dengan kekerasan verbal maupun fisik. memang anak akhirnya menjadi penurut dan mau menerima hukuman tetapi dengan rasa ketidasadarannya atas konsenkuensi yang ia buat. 

"Penting bagi anak untuk tumbuh dengan baik agar bisa menjadi penerus bangsa yang sehat secara fisik dan mental di kemudian hari". Halodoc

***

Terima kasih kepada halodoc yang sudah ikut memperingati Hari Anak ilmu dalam talkshow parentingnya sangat bermanfaat. saya sendiri mengenal halodoc sebenarnya sudah lama namun belum tahu betul pelayanannya, tetapi dari acara tersebut saya semakin tahu lagi fasilitas apa saja yang halodoc berikan yang ternyata membuat saya angkat jempol. Karena memang sebelumnya saya sudah pernah pakai aplikasi kesehatan yang bisa chat dengan dokter namun tidak selengkap Halodoc.



Halodoc merupakan aplikasi kesehatan terpadu berbasis online yang memberikan solusi kesehatan lengkap dan terpercaya dalam memenuhi kebutuhan kesehatan bagi pengguna. aplikasi halodoc dilengkapi dengantiga fitur utama. yakni, hubungi dokter, lab service dan apotik antar. Pharmacy delivery fitur layanan apotik antar 24 jam yang bebas biaya antar *s&k. Jadi, bunda bisa memesan obat langsung melalui fitur Apotik antar.

Bunda juga bisa berkonsultasi langsung dengan dokter anak melalui chat, video call, voice call. Aplikasi Halodoc memiliki tim medis mulai dari dokter umum, spesialis anak, internis, hingga dokter spesialis mata yang online 24 jam.


Jadi nostalgia saya dengan pelayanan kesehatan zaman dulu. dulu untuk sekedar konsultasi dengan dokter prosesnya lama sekali. harus naik angot dulu, antri pagi-pagi itu pun bejibun pasiennya, belum lagi biaya yang  konsultasi juga dan antri obat lagi. namun pas tau halodoc sebegini memudahkannya lagi-lagi saya bersyukur hidup di zaman ini, hehe. mau chat sama dokter, beli obat, vitamin, cek lab, gampang banget di halodoc.

yuk, dwonload aplikasinya Halodoc!

Informasi lebih lanjut,
website: www.halodoc.com
Instagram: @halodoc
#HariAnak
#PakeHalodoc
#HalodocxMBC


SELAMAT HARI ANAK 

Saturday, August 4, 2018

Pendidikan Seks Sejak Dini - Body Integrity untuk Perlindungan Diri

Body Integrity untuk perlindungan diri

Keperihatinan tentang banyaknya berita tentang pelecehan terhadap anak termasuk membuka kesempatan bagi para predator pedofilia. membuat saya ingin ikut menulis mengapa pendidikan seks harus dikenalkan sejak dini.

Bagi parents yang sering mengikuti seminar parenting mungkin sudah sering mendengar apa yang dimaksud pendidikan seks sejak dini atau mengapa harus dikenalkan sejak dini, namun ada juga sebagian besar orang tua yang masih menganggap tabu membahas hal yang amat sensitive ini.

Atau bunda salah satunya?
Bunda harus baca!

Tahukah bunda, sangat penting mengenalkan pendidikan seks sejak dini pada anak kita semata-mata untuk perlindungan diri dan sebenarnya memang harus sudah dikenalkan sejak kecil, sesuai tahap usianya. Pendidikan seks sejak dini dalam tanda kutip "Body Integrity" menanamkan rasa menghargai dirinya bahwa tubuhnya adalah miliknya yang perlu dijaga dan dihormati baik dirinya maupun orang lain. Dari sejak kecil orang tua harus sudah memberitahunya bahwa orang lain tidak boleh menatap, menyentuh, memegang apalagi menyakiti tubuhnya atau bagian tubuh orang lain dengan cara yang tidak sopan atau pemaksaan.

Orangtua sudah tahu tentang bahaya tentang pornografi, namun lupa cara mencegahnya seperti menanamkan rasa malu tentang aurat sejak dini.

Dari beberapa kejadian yang sering saya lihat (terutama di daerah perkampungan padat penduduk) sering membiarkan anak mereka buang air kecil sembarangan di depan umum, jalanan, bahkan got-got kecil. Ada pula mereka yang berhubungan dekat dengan si anak tidak jarang bercanda dengan menyentuh, menggelitik kemaluan si anak meskipun si anak terlihat senang, geli. "Sini om sunatin nanti"

Tetap Tidak boleh!

Anak kecil biasanya habis mandi lari-lari ketika hendak dikenakan pakaian. "Hey nak, pakai baju mu, pakai celana mu, atau jangan pipis diluar"

Ingat ajarkan anak malu dengan auratnya!

Disinilah peran orang tua yang pertama mengajarkan Body Integrity, baru kemudian didukung dari luar seperti keluarga besar, guru, teman dan masyarakat. Nah, pendidikan seks sejak dini ini bertahap dan disesuaikan dengan usia anak. Berikut tahap-tahap ya,

Body Integrity untuk Perlindungan Diri

IDENTIFIKASI DAN NAMAI BAGIAN TUBUH
Sama seperti bagian tubuh lainnya, bagian tubuh yang terkait dengan alat reproduksi penting untuk dijelaskan. Tetapi masih banyak orang tua yang mengganti nama bagian tubuh yang sensitive ini dengan nama-nama yang salah diartikan bahkan makanan?! Seakan-akan dosa besar jika anak menyebutnya (dosa jika katanya disalah gunakan) burung, barang, cucur, apem, pempek, ayo apalagi?!
Tidak bukan itu juga, maksudnya diganti dengan kata yang mudah dimengerti anak.

Lalu bagaimana kita menyebutnya dengan pantas?

Saya sendiri menyebutnya 'aurat' dan 'aurat atau kelamin' pada anak yang sudah beranjak remaja.

Ketika putra/putri kita membahas tentang yang berkaitan dengan organ reproduksi (remaja) Orang tua seharusnya tidak menghindari pembahasan ini. Karena akan menjadi agak rumit dan canggung untuk membahas termasuk mengenai pemeliharaannya. Anak perlu diajari caranya thaharah (membersihkan diri), istinja (membersihkan kotoran) dan juga mandi besar (mandi setelah menstruasi atau mimpi basah) bila sudah baligh. Bahkan yang lebih teknis dan spesifik seperti membuang pembalut pun baiknya diajarkan secara khusus.

FUNGSI
Menjelaskan fungsi bagian tubuh seperti pemanfaaatn serta konsekuensi dari pemanfaatan bagian tubuh itu sendiri. Jika anak sudah mengerti fungsi dari bagian tubuhnya, bisanya ia akan lebih kooperatif untuk menjaganya. misalnya ia tahu mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, maka ia akan menjaga mata atau telinganya dengan baik. anak akan tahu bahwa risiko benturan bisa melukai, maka ia akan menjaga tubuhnya agar terhindar dari resiko tersebut.

PEMELIHARAAN
Jika anak sudah mengerti fungsi-fungsi bagian tubuhnya maka ia akan lebih kooperatif untuk memelihara. Kebersihan, kesehatan adalah termasuk dalam bagian ini. Menyuruh apalagi memaksa anak mandi, sementara anak tidak merasakan langsung manfaatnya akan menjadi rutinitas yang melelahkan dan menguras emosi. Karenanya tetap penting untuk menjelaskan mengapa suatu aktivitas perlu dilakukan meski prosesnya tidak menyenangkan.

PERLINDUNGAN
Sekalipun ini tahapan tertinggi, namun dalam prakteknya tetap bisa dilakukan sejak dini. Ajari anak bagaimana melindungi dirinya.

1. Ajari anak Kapan, Siapa, Di mana dan Bagaimana ia boleh MENAMPILKAN tubuhnya. Termasuk bagian tubuh yang mana saja yang boleh ditampilkan.
- Bolehkah anak berdandan dengan make up tebal seperti orang dewasa?
- Pantaskah anak melenggak-lenggokkan tubuhnya di depan orang banyak?

2. Ajari anak Kapan, Siapa, Di mana dan Bagaimana ia boleh DISENTUH tubuhnya.
Ajari anak mengenali/mengidentifikasi ragam sentuhan mulai dari yang
- formal/sosial (misal; bersalaman),
- profesional (oleh dokter),
- kasih sayang (ciuman dan pelukan dari orangtua)
- sampai yang menjurus kepada seksual (misal; menyentuh alat kelamin) dan juga kekerasan (memukul, menampar, mencubit, dll).

Oleh karena itu,
- Bolehkah anak digendong dan dipangku oleh siapa pun apalagi yang berjenis kelamin berbeda?
- Pantaskah mencium anak yang kelihatan lucu apalagi oleh orang yang berjenis kelamin berbeda?
- Bolehkah anak dipukul atau ditampar bahkan oleh orangtua atau pun orang terdekat sekalipun. (Note; kekerasan, pelecehan seksual dan perkosaan secara statistik jauh lebih banyak dilakukan orang terdekat anak daripada orang tak dikenal).

3. Ajari anak untuk berani mengungkapkan perasaannya
- terkait tubuhnya (body sensing),
- melaporkan tindakan orang lain yang melanggar batas kepada orang yang dipercaya.
- atau bahkan belajar bela diri untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diharapkan.

Betul, bahwa bahasan dan kepantasan ini akan berkait dengan value setiap orang dan juga budaya dalam kelompok tertentu. Misalnya pendidikan seks negara barat biasanya berbeda dengan timur. kembali lagi kepada norma, budaya, kepercayaan pada kita masing-masing. Silakan saja orangtua menggunakan batasan dari value dan budaya yang dianutnya. Apapun value atau budayanya, tahapan-tahapan mencapai Body Integrity tersebut tetap penting dilakukan. Sehingga kita tidak terheran-heran ketika melihat dalam realita anak-anak yang diajari agama dan moral, tapi ternyata tidak memiliki body integrity ketika ia memperlihatkan, mem-foto, menshare tubuhnya secara terbuka atau membiarkan tubuhnya boleh diperlakukan bebas oleh orang lain.


Semoga Bermanfaat!




____________________________________________________________________

Tulisan ini hasil refrensi dari WAG parenting (Yeti Widiati 300716) yang saya baca lalu ingin saya kembangkan menjadi sebuah tulisan blog

*Istilah Body Integrity saya dengar pertama kali dari Mas Reza Indragiri Amriel seorang psikolog forensik saat membahas mengenai pelecehan dan kekerasan seksual pada anak dan remaja. Saya menurunkannya ke dalam bahasan psikologi perkembangan dan parenting yang lebih teknis. 

Sunday, July 29, 2018

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia

Montessori
Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia

Bunda pernah mendengar metode Montessori?

Pasti sudah tidak asing lagi ya ditelinga kita, tapi merasa masih belum paham betul?
sama kaya aku yang dulu, hehe. Nah, kali ini saya mau sharing tentang ketertarikan saya sama metode Montessori. bukan karena sedang trend "Montessori is a life style" tetapi memang benar nyatanya, karena metode ini memang sangat kompatibel dengan kebutuhan anak-anak zaman now. apa alasannya?

Pertama, beberapa waktu yang lalu dunia pendidikan heboh tentang Pro dan Kontra calistung, tidak hanya itu dunia parenting mendapat tantangan zaman lagi tentang dampak negatif penggunan gadget pada anak di bawah umur. Mengamati masalah diatas saya berpendapat bahwa semakin banyaknya orang tua yang menuntut kemampuan anak dengan memberikan edukasi instan. betul? 

Kedua, zaman berjalan dengan cepat, orang tua menginginkan anaknya agar berlari layaknya orang dewasa di dalam dunia mereka. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah, tempat les, kursus, tanpa pendekatan, kesempatan bekerja sesuai dengan ritme anak sendiri.

Dan dari beberapa pengalaman serta pengamatan, anak lebih bahagia belajar dengan caranya sendiri, kemampuannya sendiri tanpa ada paksaan, dan dengan cara belajar yang konkrit membuat mereka mudah mengerti. oleh sebab itu kenapa saya bilang saya tertarik dengan montessori dan memilih menerapkan metode ini kedalam kegiatan sehari-hari anak saya di rumah, karena sebenarnya kegiatan ini sangat mudah dan biasa dilakukan, Montessori made simple. Montessori adalah metodologi yang paling sesuai untuk anak usia dini, selain itu dapat menangani problema tentang pengasuhan di zaman yang semakin berkembang seperti saat ini.

Montessori adalah suatu metode pendekatan untuk pengembangan kemampuan anak yang membantu setiap anak meraih potensinya di semua bidang kehidupan dengan memfokuskan pada kemandirian anak, sikap menghargai anak dan mempelajari hal yang konkrit.

metode montessori

Sekilas jika kita melihat montessori ini seperti games atau praktek-praktek dengan banyak benda dan 'wow mahal' karena banyak macamnya tapi ternyata itu hanya presepsi yang sebenarnya masih dangkal menurut ku. Metode ini sangat bisa dilakukan di rumah sekalipun dengan bahan yang ada. sok tengok dapur, ada tepung, ada garam, ada pewarna maknan, ada cetakan kue, coba kasihkan ke anak, kita lihat apa yang ia pelajari dan amati. lihat di kebun rumah buah jambu sudah masak, ada keranjang tinggal perintahkan anak memisahkan buah busuk dengan yang tidak busuk ke dalam wadah yang berbeda. Bunda hanya tinggal buat materinya saja dan sebagai fasilitator, biarkan anak melakukan observasinya sendiri. sebenarnya simpel kan? itu masih slah satunya dari sekian banyak lagi cara-caranya.

Okeh tidak hanya sebatas itu saja bahwa metode Montessori ini bisa dilakukan dirumah, namun ternyata saat ini sudah banyak preschool yang mengaplikasikan metode montessori. menurut saya ini adalah sebuah perkembangan pendidikan yang positif ya, karena biasanya sekolah montessori ini banyak diterapkan untuk sekolah ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) saja dan luar negeri. bagi bunda yang ingin menerapkan pendidikan Montessori ini sebaiknya harus paham betul apa itu metodologi Montessori, dari situ orang tua bisa dengan mudah memilih sekolah Montessori yang sesuai dengan filosofi Montessori itu sendiri.

Sistem pendidikan montessori ini, adalah guru menyediakan informasi dan bimbingan kepada siswa dilingkungan yang edukatif. memberikan kesempatan untuk secara bebas mengerjakan kegiatan-kegiatan yang diinginkan ini artinya setiap anak bisa mengedukasi kan dirinya sendiri.

Seperti mendapat akses baru yang mudah...

Masih tahap sedang memperdalam ilmu ini, saya yang tadinya masih naik perahu seperti diberi akses berlayar menggunakan kapal untuk menuju ke pendidikan yang lebih ahlinya lagi tentang metodologi montessori. akses tersebut adalah Montessori Haus Asia (MHA). Montessori Haus Asia ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi pendidikan dan pelatihan untuk guru dan orang tua. yuk kenalan lebih lagi dengan Montessori Haus Asia!

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia

Jakarta Montessori - Beberapa waktu yang lalu saya bersama teman-teman MBC (moms blogger community) berkunjung ke PT. Montessori Haus Asia Indonesia yang berada di Multivision tower lt.25, kuningan, Jakarta. Montessori Haus Asia Singapore didirikan oleh Mr. Allan Ang untuk membuat dan mengadvokasi lingkungan belajar montessori. MHA ini sendiri ini merupakan yang terbaik di wilayah Asia Pasifik dan berkantor pusat di Singapura. 

Mr. Allan menjelaskan bahwa Pendidikan di awal tahun Montessori Haus Asia lebih berkualitas, sederhana dan terjangkau untuk semua orangtua dengan Montessori Made Simple. Metode belajar yang diberikan dapat membuat orangtua lebih bersemangat lagi dan tertarik untuk belajar montessori, #MontessoriMadeSimple. Montessori Haus Asia memiliki serangkaian paket yang lengkap untuk para guru, orang tua, sekolah atau pengusaha yang tertarik untuk menerapkan Metodologi Montessori di sekolah mereka, atau mendirikan sekolah Montessori di kota lokal dan program pelatihan guru Montessori.

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia
Ms. Rossa founder PT. Montessori Haus Asia Indonesia
Montessori Haus Asia telah menjalin kemitraan dengan Indonesia di awal tahun yang populer karena memiliki ahli montessori yang terkenal adalah Miss Rosalynn yang mendirikan PT. Montessori Haus Asia pada tahun 2017. MHA Indonesia sedang dalam perjalanan untuk memenuhi abisius rencana ekspansi yang dipetakan oleh Miss Rosalynn. Dalam kurun waktu pendek 4 bulan, MHA telah mendirikan 3 pusat pelatihan dan memiliki banyak kemitraan di seluruh nusantara.

Visi & Misi Montessori Haus Asia untuk menyediakan layanan dengan cara terbaik
  1. Semangat untuk mengubah kehidupan melalui pendidikan berkualitas
  2. Kerja tim adalah kunci pertumbuhan
  3. Kerja keras adalah dasar kesuksesan
  4. Inovasi dan kepemilikan individu didorong dan dihargai komitmen terhadap penelitian dan perkembangan
  5. Kepuasan dan kesuksesan mitra sangat penting
💻Website: http://www.montessorihausasia.com
📱 Instagram: @MontessoriHausAsia

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia

Setelah mengunjungi Montessori Haus Asia di Jakarta kemarin sebenarnya ada niat untuk belajar lebih lagi tentang metodologi montessori ini untuk bekal parenting dirumah maupun untuk dijadikan peluang di bidang pendidikan. Karena harga pendidikannya juga cukup terjangkau, next time in sha allah jika diberi kesempatan bisa balik lagi untuk belajar disini. 😊
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

interlac
http://www.interlac-probiotics.com/

Stimulusnya sudah benar seperti metode montessori tapi percuma kalo kesehatan anak terganggu, benar gak bunda? karena 90% penyakit itu berasal dari usus. usus baik, pencernaan sehat maka penyerapan asupan gizi akan semakin mudah. jadi sebenarnya jika anak ingin cerdas cepat tanggap sehat kan dulu pencernaanya agar penyerapan nutrisi ke otak dapat terserap maksimal. nah, Interlac ini merupakan suplemen makanan yang mengandung bakteri lactobacillus reuteri protectis, Minyak bunga matahari, medium chain triglyceride oil, dan anti caking agent (silicon dioxide) yang sudah teruji klinis sangat efektif dan aman untuk bayi dan anak-anak.

granola
Sepulang dari MHA saya membawa oleh-oleh banyak sekali, untuk anak saya. Salah satunya granola cemilan sehat dari @healthy.food.partner. granola ini adalah macam-macam biji-bijian (kuaci, biji labu, irisan almond, kismis, kedele, dll) rasanya enak banget dan paling penting ini cemilan sehat.

ayam gepuk mpo oneng
Sebenarnya jam 12 siang tadi adalah jam makan siang tapi saya ingin membawa @ayamgepukmpooneng ini khusus buat anakku di rumah yang suka banget sama daging ayam. apalagi ayam gepuk mpo oneng ini berciri khas dari sambalnya yang pedess dan maknyuss banget, mantep deh!

Montessori Made Simple by Montessori Haus Asia
#gamemontessori

Ini adalah trial box @GameMontessori dari Montessori Haus Asia yang saya dapatkan. 3 Activities, Planting Green Beans, Life Cycle of Green Beans, Number Games. nah, trial box ini rencananya akan saya gunakan untuk pembelajaran Montessori bersama anak di rumah.
trial box montessori haus asia

Saya percaya setiap anak itu unik dengan kemampuannya sendiri tanpa ada 'prestasi paksaan' sebab saya juga pernah menjadi anak-anak dan ini adalah PR untuk kita sebagai orang tua. Melakukan Montessori di Rumah membuat saya merasa bahwa Montessori itu tidak ribet dan sangat menyenangkan. Montessori itu tidak mahal, atau memerlukan permainan dan peralatan yang banyak,
Montessori Made Simple.

                                                      Montessori for Everyone...


                                     JAKARTA MONTESSORI- MONTESSORI HAUS ASIA



Terimakasih kepada;
@GameMontessori @mombloggercommunity 
@montessorihausasia 
@interlacprobiotics
@kamoemontessori
@letthefunbegun
@toru.id
@joyandsmart_toys
@makkeik
@ayamgepukmpooneng
@healthy.food.partner

#gamemontessori #Healthyfoodpartner
#interlacprobiotics
#probiotics
#probiotik
#ayamgepukmpooneng
#ayamgepukbsd
#ayamgepukpamulang
#ayamgepuk
#Montessoriforeveryone
#MontessoriMadeSimple 
#BelajarBerbagiBerkarya 
#MomBloggerCommunity



sumber refrensi:
https://www.yenisovia.com/2018/03/berkenalan-dengan-montessori.html
http://kurniawijiastuti.com/2018/07/tips-memilih-preschool-montessori/